Surat dari Bumi Jihad Poso

POSO, 11 Maret 2007

Dari Iin Untuk Saudaraku Basri dan Kawan Kawan di Jakarta.

Assalamu alaikum Wr,wb.

“Jangan dikira Kamu gampang masuk surga sebelum Allah Menguji kamu”

Hidupku menjadi terasing di kota tercinta Poso setelah Sahabat-Sahabat semua ditangkap, dan kemudian menjadi terkenal, beken, bagai bintang film yang disorot lampu kamera. Diburu wartawan untuk kepentingan pemberitaan. Tapi itu semua saya tak peduli. Yang merisaukan saya saat ini bukan karena akhi-akhi semua dipenjara, bukan juga karena saya tetap menjadi buronan polisi tapi peristiwa sahabat kita Basri saat di tatto di kebun coklat PDAM Desember 2006 lalu terekam baik dan kini tersimpan rapi di file Densus 88 Anti teror Mabes Polri.

Kabar itu datang dari seorang kawan wartawan yang biasa meliput di Poso. Wartawan itu jujur karena kita selama ini baik dengan kita. Mulanya saya tidak percaya lalu saya cari informasi lainnya, namun semua yang saya tanyai menyatakan hal serupa. Bahkan ada seorang kawan memperlihatkan rekaman kita diberbagai aktifitas. Saya lalu menjadi galau dan gelisah, bertanya-tanya dalam hati kenapa bisa terjadi. Jangan-jangan diantara kita ada yang menjadi mata-mata Polisi. Ah, saya tidak mau berburuk sangka, tapi ini perlu saya sampaikan kepada teman-teman di Jakarta agar semua bisa melakukan permenungan.

Sahabat-sahabat semua, mungkin masih ingat saat kita sedang berbaring melepaskan lelah dipondok-pondok kebun coklat di wilayah PDAM. Masih segar ingatan saya, saat itu Basri hanya tertawa ringkih saat ia ditatto. Rekaman itu kini tersimpan rapi di komputer jinjing Densus 88, kawan!.

Bukan itu saja, rekaman peristiwa penangkapan Yudith Parsan juga ada disitu. Rekaman itu memperlihatkan Yudith Parsan sedang melakukan persiapan saat polisi akan menyergapnya. Yudith yang kita kenal berbadan tegap dan bertubuh kekar mirip serdadu ini mengambil poisis bersembunyi dibelakang pintu dengan senjata siap tembak. Sayang saat polisi memborondong rumah itu Yudith panik, tak sempat melepaskan letusan, ia hanya mau merampas senjata milik Polisi tapi tangannya keburu ditangkap. Karena itu ia dengan gampang dicokok.

Saya dari dulu curiga terhadap salah seorang kawan yang tidak etis saya sebutkan namanya. Antum-antum sudah tahu. Saya berpikir jangan-jangan ia disusupkan ke kelompok kita. Soalnya ia dengan gampang mempeoleh informasi dan pergerakan polisi lalu diberikan kepada kita. Ia juga paling bersemangat untuk tetap melawan sampai tetes darah penghabisan. Ia sering memompa kita dengan kata-kata Jihad. Perlawanan ini bagian dari Jihad yang berbuah kesyahidan.

Dulu saat kita berunding membicarakan penyerahan diri pada Rabu malam 10 Januari lalu, dikompori untuk tetap bertahan. Tapi kita tentang, secara prinsip kita semua mau menyeraan diri, tinggal yang belum disepakati soal teknis penyerahan diri itu. Tapi yang terjadi di pagi buta Kamis 11 Januari kita diserang. Peristiwa itu kecurigaan saua makin menggunung, tentu ada yang membocorkan pertemuan kita itu.

Saya tidak tahu dari mana awalnya kita meraba-raba keterlibatan Polisi dan TNI Jamaah kita. Tapi yang saya ingin pertanyakan kenapa kebencian kita terhadap Polisi begitu ekstrim sementara perlakuan kita terhadap TNI dan Kopasusnya begitu bersahabat. Kita saban waktu melakukan swiiping terhadap polisi, sementara kalau Kopasus memasuki wilayah Gebang Rejo kita seakan mengucapkan selamat datang kawan! Saya tidak tahu apakah perlakuan kita itu bagaian dari seknario besar mereka, kita tidak tahu. Hanya Allah yang lebih tahu segalanya.

Seorang kawan di Kayamanya, menceritakan kalau diantara kita ada yang sudah dibina oleh kemandan densus 88. Dia yang menjadi informan polisi terhadap aktifitas kita keseharian. Karena itu ketika kita minta bantuan dari kawan-kawan di Kayamanya, mereka hanya diam saja.Mereka beralasan kelompok kita sudah disusupi. Tapi apa iya, senekad itu, ia mengkhianati perjuangan kita?, Kawan-kawan di Jakartalah yang bisa menjawabnya, karena Sahabat-sahabat semua sudah bisa merenung panjang sementara saya masih dikejar-kejar.

Yang lebih menyedihkan saat pertempuran 22 Januari, perlawanan kita gampang sekali dibaca. Pergerakan kita yang sudah disusun rapi dengan gampang diacak-acak. Masih ingat ketika, salah seorang diantara kita menanyakan senjata jantung pisang (Rudal) dua biji itu raib. Kita saling menyalahkan tetang raibnya senjata pamungkas kita yang sudah disiapkan untuk menghalau Barakuda.

Tentu, senjata andalan kita itu raib begitu saja. Keyakinan akan sebuah kecurigaan makin menebal saja karena kita tidak tahu siapa yang menculirigaan k senjata itu. Kesepakatan kita untuk tetap bertahan di masing markas saat pertempuran juga buyar.

Ustadz-Ustadz yang kita andalkan untuk tetap bertahan saat itu juga lari tunggang langgang. Jangan –jangan pertempuran 22 Januari lalu bagian yang sudah diseknariokan secara rapi oleh aparat keamanan dan kita hanya bagian dari lakon itu. Wallahu ‘alam bissawab.***

& Komentar

  1. seharusnya kamu dan kawan kawan kamu sejak dulu diberangus bikin malu ummat saja!

  2. apakah saudara sudah sadar sekarang siapa musuh yang sebenarnya?bagaimana saudara bisa menjadi syahid klo hati dan pikiran saudara masih diliputi hawa nafsu,karena syahhid yang paling mulia adalah melawan hawa nafsu sendiri,kemanakah wajah islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN saudaraku,pembusukan yang kamu balut dengan kemuliaan JIHAD FISABILLAH telah mencoreng wajah islam itu sendiri,SADARLAH WAHAI SAUDARAKU,kalau hatimu telah tertutup untuk menerima saran dari saudaramu ini,SEMOGA KAMU DENGAN SEGALA KESOMBONGANMU MEMBUSUK DI NERAKA,AMIN !!!!!!

  3. ko jd “hamba Alloh” bodoh banget,jihad yang dianut oleh salafussholeh adalah jhad fii sabilillah baca dunkz buku2 syaikh abdullah azzam rhm,kalo ngomong yg sopan.
    justru kamu yg sombong sok tau.

  4. saudara ku mungkin yg km blg benar,yg penting jalan awal kt mendapat hidayah kt tetap teruskan,jgn tertipu daya dgn dunia dan org2 yg tdk mengerti dgn perjuangan ini,sesungguh nya jihad kan tegak di atas kegigihan,dgn kucuran keringat,tetesan darah,rasa lelah,siksaan dan penderitaan.teruskan perjuagan utk km sahabat yg jauh di sana.

  5. Saya secara pribadi sangat mendukung kepada para mujahid yang membela islam di poso, walau hanya dg doa, karna kalo bukan para mujahid siapa lagi yg berani mengorbankan nyawa, harta dan keluarga, demi membela saudara2 muslim kita di poso, apakah anda bisa? Tapi pribadi saya hanya setuju jihad di daerah konplik saja seperti poso, ambon..

  6. cita2 yg mulia adalah mati di jln Allah, jgnlah engkau sia2kan nyawa kalian yg sgt berharga, apa kalian tidak terpikirkan dlm hati kalian untuk berjihad menolong saudara kalian kaum muslimin yg di bantai oleh bangsa kera dan bai, persembahkan jiwa & harta yg terbaik bertransaksilah dg Allah, krn itu adalah jual beli yg sgt mulia. Hahai saudaraku persiapkalah jiwa2 kalian harta2 kalian, usahalah apa yg kalian mampu karna itu lebih baik bila km mengetahui.


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar