Insiden kontak senjata antara polisi dan kelompok sipil bersenjata di kawasan Gebangrejo,Poso Kota 22 Januari 2007 yang menewaskan empat belas orang masih meninggalkan kisah dan trauma yang mendalam.Bukan hanya warga Gebangrejo tapi juga sejumlah wartawan media televisi yang sempat terkurung selama empat jam dalam insiden ini. Bagaimana kisahnya? Berikut penuturan Syamsuddin, Koresponden SCTV Palu yang turun langsung meliput tragedi berdarah itu?
Sabtu malam (20/1) sekitar pukul 20.00 WITA saya menerima telepon dari Ahmad Ali, koresponden RCTI Palu dan menginformasikan adanya bocoran dari intelejen kalau senin pagi (22/1) akan dilakukan penggrebekan DPO di Tanah Runtuh,Poso Kota.Mulanya saya tidak menanggapi serius informasi rekan tadi.Pasalnya sejak beberapa hari terakhir ini,penyergapan atau penggerebekan para DPO simpang siur.
Namun informasi tadi rupanya sudah menyebar ke telinga para wartawan baik media cetak maupun elektronik di Kota Poso. Minggu malam sekitar pukul 22.00 WITA, saya dan wartawan televisi swasta lainnya kami pun mendapat informasi akurat dan memastikan kalau senin pagi akan dilakukan penyergapan DPO. Hanya saja belum diketahui secara pasti jam berapa dimulai penyergapan itu.
Kami sepakat untuk bangun pukul 05.00 WITA dan liputan bareng. Agar tidak telat bangun, saya pun mengaktifkan alarm handpnone saya. Tepat pukul 05.00 WITA, alarm handpone saya berdering. Saya pun terbangun dan bergegas menuju kamar mandi mengambil air wudhlu untuk shalat subuh. Seusai sholat subuh dan memastikan semua peralatan liputan siap, saya pun keluar rumah dengan mengendarai mobil AVANZAku.
Setelah menjemput semua rekan Ridwan Lapasere (kontributor Global TV Palu), Upik Nyong (Kameramen RCTI Palu) dan Abdullah K Mari (kontributor ANTV Palu), sekitar setengah jam kemudian kami pun bergerak sambil berembuk dimana lokasi yang strategis dan paling aman untuk meliput.Keamanan dan keselamatan menjadi pertimbangan utama kami.
Karena bingung, kami memutuskan berhenti sementara di depan agen travel New Armada di Jalan Pulau Sumatera yang berseberangan jalan dengan kantor Polres Poso. Arus lalu lintas pagi itu sangat sepi. Hampir tidak ada kendaraan yang melintas. Cuaca sendiri cukup cerah.Sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya mendung dan turun hujan. Nampak dari kejauhan toko-toko di depan Pasar Sentral Poso tertutup rapat.
Saya menoleh ke kantor Polres Poso dan memperhatikan beberapa truk dan mobil rantis yang terparkir di halaman kantor itu. Selang beberapa saat, satu per satu kendaraan itu bergerak keluar.Saya dan rekan-rekan mulai curiga kalau penyergapan sudah mulai dipersiapkan.
Untuk memastikan itu, saya dan rekan-rekan mencoba menghubungi informan masing-masing. Namun sayang, koneksi handphone kami yang kebetulan semuanya menggunakan kartu produk telkomsel tidak bisa tersambung. Berkali-kali dicoba namun tetap tidak bisa. Kami sadar kalau jaringan telepon selular kembali diblokir seperti beberapa kejadian sebelumnya.
Khawatir kecolongan, saya dan rekan-rekan sepakat bergerak menuju Pasar Sentral Poso. Di depan pusat perbelanjaan di kota Poso kami berhenti. Suasana di tempat itu sepi.Toko-toko semua tertutup rapat dan tidak terlihat adanya aktivitas di dalam pasar. Entah kenapa. Mungkin para pedagang dan pemilik toko sudah tahu kalau pagi itu akan ada penyergapan DPO.
Kami berembuk menentukan lokasi liputan yang paling strategis dan aman. Di benak saya terpikir untuk bisa memperoleh gambar yang bagus dan aman tentunya harus bareng dengan aparat. Namun pagi itu, kami tidak tahu dimana konsentrasi polisi.
Setelah berembuk sekitar lima belas menit, kami sepakat mengambil lokasi liputan di rumah Iwan Ahmad, kontributor Trans TV Poso yang tinggal di Jalan Pulau Alor, kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Apalagi lokasinya cukup dekat dengan kawasan Tanah Runtuh yang bakal jadi target penyergapan. Sepanjang jalan menuju rumah yang letaknya hanya berjarak seratus meter dari kawasan Tanah Runtuh ini, nampak terlihat lengang. Hanya sesekali terlihat tukang ojek melintas. Sebagian rumah warga terlihat masih tertutup.
Setiba di rumah Iwan dan memarkir mobil di teras rumahnya sekitar pukul 07.00 WITA, kami duduk di teras sembari ngobrol-ngobrol. Iwan pun melayani kami dengan sajian teh manis dan makanan ringan. Sambil mencicipi makanan ringan, saya berbisik kepada Iwan agar standby karena pagi ini polisi akan melakukan penyergapan DPO di Tanah Runtuh. Iwan kaget karena rupanya baru mengetahui informasi tersebut.
Saat jarum jam menunjukkan pukul 08.05 WITA tiba-tiba muncul sebuah mobil truk sedang dari arah Jalan Pulau Irian. Sopir mobil tersebut melintas sembari berteriak kepada warga agar segera masuk dan bersiap-siap karena mereka sudah dekat. Saya belum paham apa maksud dari kata-kata sopir tadi yang berlalu begitu cepat.Namun saya menduga kalau penyergapan sepertinya segera dimulai.
Saya pun memanggil rekan-rekan agar bergerak dan mendekati lokasi Tanah Runtuh sambil mengambil gambar.Saya, Iwan Ahmad, Subandi dan Abdullah K Mari jalan lebih dulu sedangkan Upik Nyong dan Ridwan Lapasere agak di belakang. Tepat di pertigaan Jalan Pulau Alor-Pulau Irian, saya tersentak kaget ketika melihat seorang lelaki berpostur sedang mengenakan topeng menenteng senjata laras panjang.Saya langsung menduga kalau orang tersebut adalah anggota kelompok DPO dari Tanah Runtuh.Tanpa tegur sapa,lelaki tersebut melintas begitu saja.
Sekitar sepuluh meter tempat saya berdiri tepat di depan rumah salah seorang warga, saya melihat sekitar lima orang lelaki yang semuanya menenteng senjata laras panjang.Dua orang diantaranya mengenakan topeng dan duduk di atas sepeda motor. Mereka sempat berteriak agar segera bersiap-siap.Sadar kalau itu anggota kelompok DPO, saya segera meminta rekan-rekan untuk tidak mengambil gambar dan mematikan handycame.
Setelah itu,saya berlima berjalan pelan-pelan sambil memegang handycame menuju arah Tanah Runtuh sambil melintasi lima lelaki bersenjata tak dikenal tadi.Namun baru beberapa meter melangkah,tiba-tiba salah seorang dari mereka dengan senjata ditangan mencegat dan menanyakan tujuan kami. Saya dan Iwan yang kebetulan di depan dalam keadaan gugup menjawab kalau kami akan masuk ke Tanah Runtuh untuk meliput.
Mendengar jawaban kami, lelaki berpostur kekar tadi spontan menjawab agar segera balik haluan dan tidak usah kesana (Tanah Runtuh,red). Jika tidak, dia mengancam akan menembak kami.’’Tidak usah kesana. Daripada saya tembak kamu,’’ancam lelaki tadi dengan nada tegas.
Mendengar ancaman tadi, saya dan rekan-rekan pun mulai ketakutan dan bergegas balik haluan. Selang beberapa satu menit kemudian tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang tidak jelas dari mana sumbernya. Saya dan teman-teman panik seketika dan langsung masuk ke rumah salah seorang dokter yang letaknya tepat di sudut pertigaan Jalan Pulau Alor-Pulau Irian. Khawatir rumah itu tidak aman untuk tempat berlindung, saya mengajak teman-teman segera pindah tempat dan memutuskan kembali dan berlindung di rumah Iwan.
Sesampai di rumah Iwan, saya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Saya dan Iwan berhenti di pintu pagar. Saat itulah kembali muncul lelaki bertopeng menenteng senjata yang berpapasan dengan kami tadi. Lelaki tadi mengancam kepada kami agar jangan ada yang lari dan tetap tinggal di rumah.Kami pun mengiyakan.’’Jangan memang ada yang lari. Semuanya tetap tinggal di rumah,’’tegas lelaki tersebut.
Dalam keadaan ketakutan dan panik, saya dan teman-teman langsung masuk ke dalam rumah Iwan dan menutup pintu rapat-rapat. Suasana pun jadi tegang dan mencekam. Mertua dan keluarga Iwan pun panik dan ketakutan.Sebagian diantaranya masuk dalam kamar. Nyaris tidak ada suara terdengar. Hanya sesekali, anak sulung Iwan bernama Echa menangis. Namun mertua Iwan berusaha menenangkan cucunya.
Kami semua tiarap di lantai rumah. Tidak ada yang berani mengangkat kepala karena takut terkena peluru nyasar.Sejak saat itu, rentetan tembakan diselingi ledakan bom terus bersahutan. Ratusan butir peluru berhamburan dari berbagai jenis senjata. Semur hidupku baru kali itu mendengar dan mengalaminya.Di samping kiri dan kanan serta belakang rumah Iwan tak luput dari hantaman bom dengan suara yang cukup memekikkan telinga. Serpihan ledakannya pun terdengar menerpa atap rumah.
Saya tiba-tiba teringat dan cemas dengan kondisi mobilku yang terparkir di teras rumah. Sesekali saya menanyakan teman-teman kemungkinan mobilku sudah terkena bom atau tembakan.Tapi saya kemudian pasrah dan berfikir yang penting saya selamat.Toh mobil masih bisa diganti sedangkan nyawa tidak bisa.
Meski tidak sempat melihat kontak senjata dan ledakan bom secara langsung namun saya tetap berusaha mengabadikan kejadian itu dalam rumah. Saya tetap nyalakan handycameku dan merekam suara rentetan tembakan dan ledakan bom. Saya perhatikan teman-teman lain juga begitu.
Tak lama terdengar suara helikopter yang mengeluarkan himbauan agar warga semua tetap dalam rumah dan jangan ada yang keluar agar tidak terkena peluru nyasar. Saya mencoba memberanikan diri bangun dan menuju bagian dapur rumah Iwan. Di tempat itu saya melihat dan merekam helikopter yang berputar-putar di ketinggian sekitar empat ratus meter sembari menyampaikan imbauan lewat mikropon.
Sekitar dua jam berlalu, rentetan tembakan saling berbalasan dan ledakan bom terus terjadi. Tiba-tiba terdengar suara pekikan takbir sembari menyebutkan nama seseorang yang terkena tembakan dari arah Tanah Runtuh. Kami menduga salah seorang dari kelompok DPO telah terkena tembakan.Namun kejadian itu tidak menyurutkan frekwensi tembakan di kawasan Tanah Runtuh.
Sekitar pukul 11.00 WITA , frekwensi tembakan serta ledakan bom mulai menurun.Nampaknya kelompok DPO telah dipukul mundur oleh polisi dan mulai terdesak ke kawasan Bukit Jati.Beberapa saat kemudian, muncul empat orang anggota brimob bersenjata lengkap dan langsung masuk halaman rumah tempat kami berlindung. Salah seorang diantara mereka kaget begitu melihat mobil saya yang memang menggunakan plat khusus.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, saya segera mengintip lewat jendela dan memberi isyarat kalau saya pemilik mobil itu sembari menunjukkan kartu identitas SCTV. Melihat isyarat itu,anggota brimob tadi pun tersenyum dan mengangguk. Ia meminta kepada saya dan teman-teman agar tenang dan tetap dalam rumah.
Setelah kedatangan sejumlah anggota brimob yang menjadikan rumah Iwan juga sebagai tempat pertahanan, saya pun memberanikan diri mengambil gambar secara diam-diam dari sudut jendela. Teman-teman lainpun minta bergiliran.Tak heran gambar rekaman saya dan wartawan televisi lainnya hampir sama.
Menjelang pukul 12.00 WITA,suara tembakan dan ledakan bom terdengar semakin jauh dan nyaris tak terdengar lagi. Kami seisi rumah mulai memberanikan diri bangun sembari menyantap buah rambutan dan langsat yang kebetulan baru saja dibeli mertua Iwan.Mungkin karena lapar bercampur rasa takut sehingga kami makan dengan lahapnya.
Setelah itu, saya keluar lewat pintu belakang dan mengambil gambar beberapa anggota brimob bersenjata lengkap yang juga berada di belakang rumah Iwan. Mereka sempat kaget begitu melihat saya menyalakan handycame. Namun setelah memperkenalkan diri saya akhirnya mereka mengerti dan meminta berhati-hati dalam meliput.
Beberapa saat kemudian, sebagian anggota brimob tadi bergerak menuju Tanah Runtuh. Sebagian diantaranya masih siaga di depan rumah. Tiba-tiba salah seorang anggota brimob itu berteriak agar menjauh karena ada bom tergeletak di teras rumah tepat di sebelah rumah Iwan. Suasana pun kembali tegang dan panik. Terlebih pemilik rumah yang sejak tadi bersembunyi dan tiarap di dalam rumahnya.
Khawatir bom tersebut meledak, kami menyarankan pemilik rumah itu agar segera menghubungi polisi. Namun hingga saya dan teman-teman pamit dan meninggalkan rumah Iwan sekitar pukul 12.30 WITA, tim gegana Polres Poso belum juga muncul.Suasana tegang berubah menjadi tenang setelah saya dan teman-teman sampai di rumah kembali.Semua penghuni rumah tempat saya menginap selama liputan di Jalan Agus Salim,kelurahan Bonesompe bersyukur karena saya selamat.(***)
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar




aku seh lagi cari berita aja buat tugas jurnalistik,,,
tapi malah kebaca blog ini..
tapi seru banget seh punya pengalaman kayak gini,,
makanya aku pengen banget jadi jurnalis,,biar banyak pengalaman yang orang lain gta mungkin dapet walaupun harus ambil resiko hilang nyawa,,,
ehehehe
kayaknya syarat” sebagai reporter harus ditambah satu lagi ya..
Bravery…