Januari di Poso adalah bulan pesta rakyat. Musim buah-buahan melanda daerah jantung Pulau Sulawesi itu. Pemandangan jualan Durian, Langsat, Manggis dan aneka jenis Mangga terpampang sepanjang jalan Negara di Kabupaten Poso yang dikenal sebagai wilayah sepotong “ Surga ” itu. Pada Januari Group musik Indie dari kota Palu rencananya akan manggung di sana.
Poso memang kota yang bangkit setelah didera konflik bernuansa etno relegius sejak 1998 lalu. Aktivitas ekenomi mulai merambah. Group-Group pengusaha Palu dua tahun belakangan ini membuka cabang. Group swalayan BNS, dealer motor Honda dan mobil Toyota serta Group penjualan Bahan Bangunan, Sahabudin Maju adalah salah satu contoh. Di Pasar-pasar desa, sepeda motor yang masih tersegel dijajakan seperti layaknya, sayur kangkung.
Tapi sejak perburuan terhadap 29 daftar Pencarian Orang (DPO) 22 Januari lalu pesta rakyat menjadi macet. Jualan buah-buahan menjadi tak laku karena tak ada pembeli. “Durian Saya busuk-busuk karena tak ada Bus-bus besar dari Makasar dan Luwuk yang lewat” Kata Nyonya Lince, warga Desa Sepe, Kecamatan Lage. Dan Group Indie? “Jadwal kami menjadi berantakan” ujar Manajer Band anak muda Palu, Rizal Buncit.
Perburuan terhadap para DPO Mabes Polri yang diduga sebagai pelaku kekesaran Poso menjadi ajang konflik baru setelah kebiasan dua komunitas di Poso, Islam – Nasrani berhenti bertikai. Wilayah Tanah Runtuh sebagai basis anak-anak DPO menjadi medan pertempuran antara kelompok tersebut dengan Polisi.
Pemicunya menurut versi Polisi: anak-anak muda Poso yang masuk dalam daftar penangkapan tak mau menyerahkan diri. Kelompok ini yang oleh polisi sebagai kelompok yang bertanggung jawab terhadap sejumlah kekerasan berdarah dan mematikan di wilayah Sulawesi Tengah dan Poso khususnya.
Akibatnya, polisi mengarahkan tidak kurang 1200 personil Brimob untuk menangkap hidup atau mati kelompok DPO tersebut. Belum yakin dengan kekuatan itu, polisi menerjunkan empat kendaraan mobil besi anti peluru (Barakuda) untuk menembus persembunyian kelompok itu. Belum puas juga polisi menambah kekuatan dengan pamungkas dua buah helicopter dan satu unit kapal dari kesatuan polairud. . Polisi memang sangat rapi mempersiapkan pertempuran yang berskala besar itu.
Dan perang kota pun dimulai: Mula-mula dua kendaraan Barakuda meluncur dari mulut Jalan Pulau Irian, pintu gerang memasuki daerah Tanah Runtuh. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 07.30 wita. Belum cukup seratus meter kendaraan itu bergerak sudah disambut berondongan peluru dari kelompok DPO. Pasukan Brimob yang mengikuti Barakuda secepat kilat berkelabat mencari perlindungan. Bersamaan dengan itu gerak maju pasukan brimob dihalau dengan lemparan bom. “Paling banter kami maju hanya sampai sepuluh meter, tak berani maju karena bom berseliweran” Kata anggota polisi yang ikut dalam perang itu.
Di wilayah PDAM, sebelah timur kota Poso, pasukan DPO melakukan perlawanan sengit. Bripda Wahid, dari Brimob Palu yang menjadi komandan disana belum siap betul. Tiba-tiba saja ia dihujani peluru dari arah rumah-rumah penduduk dan pinggang bukit Gunung jati. Ia salah satu anggota Polisi yang terkena peluru. “untung saya pakai baju anti peluru,sehingga hanya lengan saya yang terluka akibat tembakan yang mental” Katanya.
Wilayah PDAM adalah pintu masuk ke wilayah kelurahan Gerang Rejo. Disini DPO Poso, Agus Jenggot yang dipercaya sebagai penjaga pintu utama. Diwilayah itu juga sebagai tempat pelarian kelompok DPO, tak heran belakangan di PDAM ditemukan sebuah bunker tempat persembunyian dan penyimpanan senjata-senjata para DPO itu.
Awalnya kelompok DPO dalam melakukan perlawanan berada diatas angin. Sampai pada pukul 09. 00. wita, DPO berhasil menembak mati Bripda Roni Setiawan, anggota Brimob kelapa dua, di daerah jalan pulau Alor. Melihat itu Polisi menerbangkan Helicopter yang menggunakan pengeras suara menghimbau agar warga Gebang Rejo untuk tidak keluar rumah. Ini pertanda polisi akan melakukan penyerangan secara massif.
Sejak Helicopter meraung-raung diatas langit kota Poso, pergerakan para DPO pun terbaca. Para DPO itu kucar kacir. Mereka terpaksa meninggalkan markas-markas pertahanan di lima titik. Strategi penyerangan dengan memakai sistem letter S tak jalan. Sebuah seknario penyerangan bersikzak dalam kota Gebang rejo. Berkelabat dari rumah-rumah penduduk yang sudah dipersiapkan menjadi macet. Rupanya mereka tak menduga polisi dalam melakukan serangan memakai helicopter.
Saat itu Situasi pun berbalik, polisi berhasil menguasai psikologi pertempuran, namun begitu polisi belum berhasil menguasai medan. Buktinya dalam Kapolda Sulteng Brigjend Pol, Badrodin Haiti sempat gusar karena sampai pada pukul 11.00 wita sudah delapan warga Poso menemui ajal akibat terjalan peluru polisi tapi tak satu pun dari kalangan DPO yang tewas.
“Bagaimana ini Kapolres, belum ada DPO yang tertangkap dan tewas” ujar Kapolda Brigjend Badrodin kepada Kapolres Poso AKBP Rudy sufahriadi diruang kerjanya.
Kapolres menjawab, “Tenang komandan, Saya yang bertanggungjawab atas kematian warga itu” balas Kapolres Poso.
Kapolres AKBP Sufahriadi yakin mengucapkan kalimat itu, karena warga Poso yang tewas ditengarai melakukan perlawanan dengan memakai senjata modern otomatis semacam AK 47, M 16, MK 3 dan senjata sejenis lainnya. Sejak itu istilah kelompok sipil bersenjata popular. Kosa kata ini menjadi andalan polisi yang mendapat simpati luar biasa dari masyarakat. Polisi dalam melakukan serangan massif ke wilayah Gebang Rejo terlegitimasi dengan kosa kata itu.
Menurut pengakuan Tugiran, komandan anak-anak bebek dan tangan kanan pentolan DPO Basri (lihat tulisan anak-anak), dirinya sempat melakukan pergerakan sikzak dalam perlawanan tapi itu tak efektif karena Markas-markas mereka makin didekati polisi. Markas kekuatan utama mereka diwilayah Lorong pembantu Gubernur, sebuah daerah yang berbukit pada siang harinya jatuh ke tangan Polisi. DPO, Wiwin yang menjaga daerah lari dan turun kota Gebang Rejo menyelematkan diri. “Saya bingung setelah Basri markas di jalan pulau Jawa sudah tak ada, saya lari ke pos pembantu Gubernur sudah dikelilingi aparat” Ujar Tugiran.
Ia mengaku dalam pergerakan sikzak itu ia diserbu polisi dan ditangkap.
Sumber dari kalangan DPO menyebutkan awalnya mereka mempunyai senjata rudal (DPO menyebutnya senjata jantung pisang) sudah dipersiapkan untuk menghalau Barakuda. Namun senjata itu, tiba tiba raib pada pagi harinya. Padahal kata sumber DPO itu sudah ada dua orang yang siap menjadi martil untuk memegang senjata itu. (Dua orang sudah menyatakan siap syahid untuk melucurkan`senjata jantung pisang itu” Katanya.
Kalau saja kata dia, senjata itu tak raib, cerita perlawanan kelompok DPO akan lain. Seorang anggota Polisi yang ikut dalam penyerangan itu menyatakan hal yang serupa. Ia berkata, pihak polisi berani maju karena Barakuda telah mengacak-acak persembunyian para DPO itu.
Perang kota itu memakan waktu selama delapan jam lamanya. Kelompok DPO lari tunggang langgal dari medan pertempuran dengan nafas tersengal. Polisi juga tersandar merampungkan sisa-sia nyalinya. Sejatinya Polisi juga takut melihat heroisme perlawanan DPO itu. “Senjata mereka bagus-bagus kita jelas waspapa” tukas seorang polisi.
Lalu dimana posisi warga Poso ketika perang berlangsung?. Yang pasti mereka terkurung terkurung dalam kecemasan dan ketakutan sekaligus. Suratmi warga Jalan pulau Jawa II misalnya , merasakan susatu yang absurd dalam pertempuran itu. Ada yang taak masuk akal dibalik serangan Polisi ke kampung halamannya. Suratmi mewakili dari ribuan warga Gebang Rejo, mungkin saja benar. Soalnya belum hilang betul derita yang dialami pada konflik Poso enam tahun silam, kini konflik dengan magnitude serupa kembali terulang. “hidup makin sulit, entah dimana semua ini akan berujung” Ujarnya.
Yang membuat ia nelangsa karena rumahnya yang baru saja direhab terpaksa berantakan karena terjangan peluru. Kaca-kaca depan rumahnya hancur terburai, Isi rumahnya pun bagai kapal pecah setelah diacak-acak polisi yang menncari senjata dan anggota DPO yang ditengarai bersembunyi disitu. Tanaman sayur-sayuran didepan rumahnya juga terinjak-injak oleh kedua kelompok yang tertikai.
“Kami tak tahu apa yang kami kerjakan, senjata-senjata DPO dan Polisi yang menentukan nasib kami saat itu” Ucap Suratmi.
Sikap Polisi jelas: Serangan terhadap kelompok DPO itu tetap dibutuhkan, karena kelompok ini yang melakukan aksi kekerasan di Poso. Penyerbuan itu mutlak diperlukan sebagai upaya penegakan hokum diwilayah republic ini. Polisi berkeras melakukan serangan ke kelompok DPO yang berbasis di wilayah Gebang Rejo itu karena mereka tak mau menyerahkan diri. “Langkah persuasive sudah ditempuh, tenggat waktu sudah beberapa kali diberikan. Kali ini polisi sudah kehabisan waktu, ya terpaksa kita lakukan upaya pemaksaan ” Katanya Kapolda Sulteng.
Dendam kalangan DPO akibat konflik Poso 2000 menjadi letigimasi anak-anak muda Poso melakukan aksi kekerasan. Atas nama balas dendam, Basri dan Tugiran misalnya rela menjual hartanya untuk membeli senjata untuk melakukan aksi balas dendam tersebut. Basri mengakui melakukan sejumlah kekerasan di Poso seperti peristiwa mutilasi dua siswi anak SMA di kota Poso atas nama balas dendam.
Yang jelas perang kota itu telah memakan 13 warga sipil melayang, satu Polisi dan merusak pasilitas pribadi warga yang tidak terlibat. Menciptakan ketakutan dan trauma anak-anak belasan tahun di Poso. Perekonomian warga menjadi macet. Perang 22 Januari memang sebuah tafsir yang keliru untuk tidak disebut “ Sesat ”. ****
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar




Aduh, semoga poso bisa segera damai.
KURLEM AH…..