Surat dari Bumi Jihad Poso

POSO, 11 Maret 2007

Dari Iin Untuk Saudaraku Basri dan Kawan Kawan di Jakarta.

Assalamu alaikum Wr,wb.

“Jangan dikira Kamu gampang masuk surga sebelum Allah Menguji kamu”

Hidupku menjadi terasing di kota tercinta Poso setelah Sahabat-Sahabat semua ditangkap, dan kemudian menjadi terkenal, beken, bagai bintang film yang disorot lampu kamera. Diburu wartawan untuk kepentingan pemberitaan. Tapi itu semua saya tak peduli. Yang merisaukan saya saat ini bukan karena akhi-akhi semua dipenjara, bukan juga karena saya tetap menjadi buronan polisi tapi peristiwa sahabat kita Basri saat di tatto di kebun coklat PDAM Desember 2006 lalu terekam baik dan kini tersimpan rapi di file Densus 88 Anti teror Mabes Polri. Baca Lanjutannya…

Empat Jam dalam Kepanikan

Pagi di kota Poso Senin 22/1, matahari cukup bersahabat. Sinar temarannya menembus relung kehidupan warga. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya hujan selalu mengguyur dan awan menyelimuti kota yang pernah dilanda konflik bernuansa SARA beberapa tahun silam. Seakan tidak ada tanda terjadinya sebuah tragedi yang berdarah-darah di kota penghasil eboni itu.Tak heran murid -murid Taman Kanak-kanak Tjokroaminoto, Jalan Pulau Bali, Kelurahan Gebangrejo, tetap mengikuti rutinas pagi. Bernyanyi seraya berdoa doa bersama sebelum memulai aktivitas belajar mengajar. Ini memang sudah menjadi agenda ‘wajib’ di sekolah yang memang berbasis Islam tersebut.

Namun baru saja memulai pelajaran, tiba-tiba terdengar suara rentetan tembakan. Tidak jelas darimana sumber dan arah tembakan. Seketika, suasana dalam ruang kelas menjadi kacau. Lebih seratus murid di TK tersebut jadi ketakutan dan menangis. Mereka terbirit-birit masuk bawah meja dan kursi untuk bersembunyi. Adapula yang langsung memeluk gurunya sembari menangis dan memanggil orangtuanya.

Siti Aminah, salah seorang guru TK Tjokroaminoto yang mengajar saat itu tidak bisa berbuat banyak. Bukan hanya muridnya yang ketakutan,tapi dia juga merasakan hal yang sama. Ketakutan semakin menjadi-jadi begitu melihat puluhan anggota brimob menenteng senjata laras panjang masuk ke pekarangan sekolah. Ia pun bertanya-tanya kenapa polisi itu masuk ke pekarangan sekolah kemudian menyebar dengan senjata siap tempur. Jangan-jangan sekolahnya mau dijadikan benteng pertahanan polisi. “Kalau itu terjadi maka habislah kita” ujar Aminah.

Puluhan polisi itu sempat memperingatkan guru dan muridnya agar semuanya tetap berada di dalam kelas agar tidak terkena peluru nyasar.Aminah masih kebingungan apa maksud polisi tadi. Ia sendiri belum melihat adanya musuh yang dihadapi polisi.

Selang beberapa menit saja, rentetan tembakan kembali terjadi. Dari kejauhan terdengar suara ledakan bom‘’Anak-anak semakin ketakutan. Suara apa itu bu.Mau ditembak kita bu. Saking takutnya beberapa murid kami muntah-muntah dan berak-berak. Tapi saya berusaha menenangkan mereka. Tenang nak, itu yang ditembak itu bukan kita,’’kisah Aminah menirukan perkataan dan reaksi muridnya saat itu.

Saat itu, Aminah dan guru yang lain terus berusaha menenangkan murid-muridnya. Ia kewalahan menenangkan murid TK itu yang menangis bersmamaan . Belum lagi orang tua murid yang tak henti-hentinya menelepon ke sekolah untuk menanyakan anaknya. “Waduh saya hampir pingsan saat itu” katanya.

Meski umumnya ketakutan namun adapula murid TK tersebut yang memberanikan diri mengintip lewat jendela. Mereka melihat langsung bagaimana polisi tiarap memasang senjata laras panjang kemudian melepaskan tembakan beruntun. Namun gurunya buru-buru mencegatnya demi menghindari peluru nyasar.

Menurut Aminah, suasana mencekam yang diliputi ketegangan ini berlangsung sekitar empat jam. ‘’Pokoknya nanti perasaan kami mulai tenang pak setelah pasukan polisi itu beranjak dan bergerak keluar dari sekolah. Suara tembakan saat itu juga sudah reda.Tapi saya tetap menenangkan anak-anak agat tetap dalam kelas. Hingga akhirnya orang tua mereka datang satu persatu menjemputnya,’’kenangnya.

Peristiwa 22 Januari 2007 itu sangat berdampak pada murid dan aktivitas belajar mengajar di TK Tjokroaminoto. Karena peristiwa itu, sekolah diliburkan selama sepekan. Meski telah dibuka kembali namun banyak murid yang belum masuk karena trauma dan sakit.’’Nasib anak-anak kami ini sebenarnya tidak perlu terjadi andai kami tahu akan ada penyerangan. Makanya kami sesalkan karena tidak ada pemberitahuan dari polisi sebelumnya kalau akan ada penyerangan,’’pungkas Aminah sembari berharap agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

Suasana serupa juga terjadi di Sekolah Dasar Negeri 17 Poso. Puluhan guru dan ratusan murid sekolah yang letaknya berhadapan dengan TK Tjokrtoaminoto ini juga diliputi ketegangan dan ketakutan.Suasana pagi yang tadinya cerah berubah menjadi mencekam.

Pagi itu, lebih tiga ratus murid SDN 17 baru saja mengikuti upacara bendera dan masuk dalam kelas masing-masing. Para guru pun memulai proses belajar mengajar di kelas masing-masing.

Namun baru beberapa menit proses belajar mengajar berlangsung,tiba-tiba terdengar suara rentetan tembakan.Di jalan raya depan sekolah, terlihat puluhan polisi menenteng senjata laras panjang berlarian. Belasan diantaranya masuk ke pekarangan SDN 17.

Situasi seketika berubah jadi tegang dan mencekam. Suara tembakan dari sekitar sekolah membuat aktivitas belajar mengajar langsung dihentikan. Ratusan murid spontan menangis dan berteriak ketakutan sembari menyebut dan memanggil kedua orangtuanya. Para guru langsung meminta muridnya tiarap dilantai. Sebagian diantaranya masuk berlindung di bawah meja dan kursi.

‘’Pokoknya begitu terdengar rentetan tembakan terus, saya langsung suruh murid-murid tiarap di lantai.Saya juga berusaha menenangkan mereka agar tidak panik.Tapi dasar anak-anak, mereka tetap ketakutan.Mereka menangis bahkan berteriak histeris sambil memanggil kedua orangtuanya,’’kisah Haeriah,kepala sekolah SDN 17.

Yang membuat kepanikan semakin menjadi-jadi menurut Haeriah, karena adanya belasan polisi masuk ke pekarangan sekolah. Entah mereka bermaksud melindungi guru dan murid atau malah menjadilkan sekolah itu sebagai tempat pertahanan. ‘’Tapi saya langsung beritahu kepada polisi agar tidak melepaskan tembakan. Karena pasti ada balasan dan itu akan mengarah kepada sekolah. Jadi saya ingatkan terus kepada polisi agar tidak melepaskan tembakan.Syukurlah mereka menuruti permintaan saya,’’terangnya.

Haeriah menambahkan selama terjadi kontak senjata, ia,guru-guru dan ratusan muridnya praktis terkurung dalam ruang kelas dan tidak ada yang berani keluar.Setelah empat jam lebih dan suasana mulai agak tenang, ia pun mulai berani membuka pintu kelas.Di depan sekolah masih terlihat puluhan anggota polisi bersenjata lengkap tengah siaga.

Meski telah tenang, namun Haeriah belum berani memutuskan memulangkan murid-muridnya. Karena puluhan muridnya mulai kelaparan, ia mencoba mengatasinya dengan membelikan nasi kuning.

Nanti menjelang siang sekitar pukul 13.00 WITA, satu persatu orang tua berdatangan menjemput anaknya di SDN 17.Kepala sekolah dan guru-guru di sekolah itu pun tidak mampu mencegatnya. Banyak diantara murid terpaksa menumpang kendaraan orang tua temannya karena ketakutan. ***

Profil Basri: Dendam Pemusik Bermata Elang

Umurnya masih muda, 32 tahun. Badannya kekar dihiasi tatto di sejumlah bagian. Rambutnya ikal. Tatapannya tajam, juga garang bagai elang. Suatu siang, Jumat awal Februari 2007, di sebuah ruangan di markas Polda Sulawesi Tengah, lelaki muda itu duduk dikelilingi polisi, serta wartawan.

Kepada wartawan, juga polisi yang mendengar, lelaki muda itu bercerita panjang: Tentang sepak terjangnya, hingga dia, hari itu berada di markas polisi dengan status: Tersangka! Meski meneriakan takbir ”Allahu Akbar”, toh lelaki itu kehilangan kegarangan saat bercerita tentang keluarga yang terbantainya saat kerusuhan Poso, tahun 2000 silam. Ia menangis, lalu menghilangkan airmatanya dengan tanganya yang bertato.

Lelaki muda itu adalah Basri. Ia juga akrab dipanggil Bagong. Ia buronan nomor satu polisi. Tak tanggung-tanggung, 17 kasus kekerasan terorisme dituduhkan kepada Bagong. Mulai dari pengeboman di Poso dan Palu, juga serangkaian penembakan misterius disangka kepada lelaki yang masa remajanya dihabiskan bermain musik di sebuah grup band di Poso itu.

Tapi, Basri licin, bagai belut. Berungkali ia lolos dari sergapan polisi bertitel detasemen khusus, juga brigade mobil. Hingga suatu pagi, Kamis awal Februari 2007, pelarian Basri berakhir di Kelurahan Kayamanya, Poso. Luka tembak di bagian perut akibat pertempuran panjang dengan polisi selama delapan jam lebih, tanggal 22 Januari 2007, membuatnya tak lagi lincah. Keberaniannya pun lenyap. Ia ditangkap dengan mudah.

Tapi, toh, ia tetap menjadi legenda, juga ikon bagi sejumlah kalangan di Poso. Meski jalan yang dipilihnya, dianggap keliru, Ia menjadi simbol pembalasan dendam ratusan warga yang tewas saat kerusuhan Poso. Ia juga menjadi simbol perlawanan terhadap polisi.

Siapa sesungguhnya Basri yang diakui memiliki keahlian menembak jitu?

Basri lahir 32 tahun yang lalu. Orang tuanya lupa tanggal dan bulan kelahirannya. Yang mereka tahu Basri lahir sekitar tahun 1975. Ia pernah mengenyam pendidikan formal hanya sampai kelas 3 SMPN I Poso, namun tidak sempat tamat. “Dia memilih berhenti sekolah saat kelas 3 SMP, demi mengutamakan empat adiknya, agar bisa sekolah,” kenang Satinem alias Mbak Sabruk (53), ibu kandung Basri.

Mbak Sabruk menuturkan Basri adalah anak yang hormat dan patuh kepada orang tua. Dia juga dikenal sebagai anak yang suka menolong orang lain.

“Anak saya itu nggak pernah macem-macem. Tiap hari kerjanya di kebun, membantu bapaknya ngerawat tanaman. Ia juga suka tanam sayur. Kalau tiba waktu panen, saya yang jual dipasar,” tutur Mbak Sabruk yang sehari-harinya berjualan sayuran di Pasar Sentral Poso.

Kata ibunya, dari bekerja membantu orang tua di kebun, Basri selalu memperoleh setengah dari hasil kebun yang dikerjakan bersama itu. “Kalau dia panen, saya yang yang jual. Hasilnya kami bagi dua,” kisah ibunya lagi.

Nenek tujuh cucu ini juga bercerita soal masa kecil Basri. Kata dia, seperti anak-anak kecil seusianya saat itu, Basri terlihat biasa. Suka bermain dan bersendau gurau. Basri juga dikenal sebagai anak yang kalem dan pendiam. Yang lebih menonjol di antara rekannya, Basri suka menolong temannya yang susah.

Basri remaja tak melulu mengahbiskan waktunya di kebun. Ia juga bermain musik. Bersama-temannya di Kayamanya, mereka mendirikan grup band. Basri menjadi drumer, sementara Amril Nggiode alias Aat, temannya yang juga menjadi DPO polisi, menjadi gitaris. Vokalis mereka bernama Hnedrik. Grup band ini memilih jalur rock sebagai pilihan bermusik. Mereka senang menyanyikan lagu-lagu Genesis, Grup band asal Inggris.

Kesenangannya bermusik, namun juga senang berkebun, membuat banyak yang tak percaya, Basri terlibat serangkaian kekerasan terorisme di Poso.

Mbak Sabruk, ibunya, kaget jika Basri sampai memiliki banyak senjata api dan peluru-peluru serta disebut-sebut sebagai pimpinan kelompok bersenjata di Poso. Ia juga heran tatkala anaknya ditetapkan sebagai DPO nomor satu Mabes Polri.

Pengakuan ibu kandungnya ini, dibenarkan oleh Sriyani (30). Adik kandung Basri. “Kakak Saya itu pendiam, dan rajin membantu bapak sama mama di kebun. Saya tidak percaya mendengar bahwa kakak saya itu, berbuat jahat dan macem-macam. Keluarga tahu Basri ditetapkan sebagai DPO dari televisi,” ungkap Sriyani.

Namun, sejak menikah tahun 2000, kiprah Basri tak selalu terekam dalam catatan keluarganya, jejaknya tak terbaca. Keluarga tidak tahu menahu apa aktivitas Basri selama ini. Sriyani mengaku tidak tahu persis, termasuk kalau Basri diduga berbuat kriminal.

“Sejak menikah tahun 2000 silam, Basri tinggal bersama mertuanya di Jalan Pulau Jawa I. Yang kami tahu dia hanya bekerja di kebun, dan rajin sholat. Soal yang lain, kami tidak tahu. Tapi, kami tetap tidak percaya kalau Basri terlibat dalam kriminal,” aku Mbah Sabruk

Basri memiliki dua anak dari pernikahannya dengan dengan Sunarni. Anak-anaknya, Annurul Fitra (5) dan Safiana Jedda (2) tentu saja tidak tahu menahu bagaimana kabar ayah mereka kini. Yang mereka tahu, ayahnya pergi bekerja di Palu.

Soal dari mana basri mendapatkan senjatanya, ada cerita lain yang menarik. Pimpinan Pesantren Amanah, Ustadz Adnan Arsyal menyampaikan sebuah cerita bahwa Basri sendiri yang membeli senjata api dan amunisinya.

“Ia menjual kebunnya untuk membeli senjata dan amunisi. Katanya ia ingin membalas dendam karena puluhan keluarganya tewas dibantai pada kerusuhan 2000 silam,” tutur Ustadz Adnan.

Soal keluarga Basri yang tewas saat kerusuhan, Mbak Sabruk punya cerita lain juga. Katanya hitungan Basri terlalu kecil. Jika Basri mengakui sekitar 26 keluarganya dibantai di Pesantren Walisongo, maka Mbak Sabruk menyatakannya lebih dari yang disebutkan Basri.

Saat ini Basri menjalani pemeriksaan intensif di Mabes Polri, Jakarta. Basri pun sudah mengakui sejumlah aksi-aksi kekerasan yang dilakukannya. Di antaranya, penembakan Pendeta Susianti Tinulele di Palu pada 2003, lalu mutilasi atas tiga siswi SMU Kristen GKST di Poso, November 2005 dan penembakan atas Ivon Natalie dan Sitti Nurain di Poso tahun 2005 lalu.

Keluarganya hanya bisa berpasrah diri. Mbak Sabruk meminta agar Polisi  memperlakukan anaknya secara manusiawi. “Anakku sudah dituduh macem-macem. Tapi saya minta dia diperlakukan manusiawi, karena pengadilan yang akan menentukan benar atau tidaknya kasus yang dituduhkan,” pinta Satinem.

Selain itu, polisi juga diminta bersikap adil dalam penegakan hukum. “Jangan cuma umat Islam yang diuber-uber. Kenapa 16 nama yang disebut Tibo tidak di proses, pembantaian Buyung Katedo tidak ditangani. Sebagai orang kecil saya hanya percaya kita semua akan mati. Di sanalah kita akan bertanggung jawab,” ujarnya.

Yang menarik, Ibu Basri dan keluarganya yang lain menolak menerima bantuan Polisi seperti yang sudah dijanjikan bagi korban operasi penegakan hokum 11 dan 22 Januari lalu.

“Biar saya ini miskin, bantuan apapun yang akan diberi pemerintah maupun polisi terhadap kami, saya tidak mau menerima,” tegas Satinem, ibu kandung Basri, yang ditemui di kediamannya di Kelurahan Tegalrejo, Poso Kota.

“Kalau kami terima, berarti sama dengan menukar dua nyawa adik saya yang tewas ditembak polisi,” sambung Sriyani, adik kandung Basri.

Mbak Sabruk mengaku sangat terpukul dengan peristiwa yang mereka alami. Bukan hanya tuduhan polisi terhadap Basri-anak pertamanya, yang membuat nenek tujuh cucu ini terpukul, tapi, kematian dua adik Basri, Udin dan Totok, pada peristiwa baku operasi penyisiran DPO Senin (22/1/2007) lalu.

“Adikku, Udin, kan kurus. Dia ditangkap hidup-hidup dan tanpa luka tembak. Tapi saat pulang dari Polda sudah jadi mayat. Badannya-pun berubah jadi gemuk karena lebam dengan hasil penganiayaan. Hidungnya remuk. Dan kepalanya lembek seperti semangka yang baru jatuh,” terang Sriyani, sembari menceritakan pula kondisi mayat Totok yang tak kurang tragisnya.

Kini lelaki muda bermata elang itu, tak lagi bisa terbang. Kepaknya sayapnya telah digari. Hari-hari terakhir ini ia mesti menjalani peradilan tehadap dosa yang dituduhkan padanya.

Ia juga mesti menjalani sisa hidupnya dengan penyesalan. Pilihan membalas dendam bagi semua keluarganya yang tewas saat konflik Poso bergelora, ternyata, bagi dia, bukan pilihan yang tepat. Nyawa berbalas nyawa, bukalanh solusi apik bagi penyelesaian konflik. Dari balik bilik penjara, Sang Elang pun mengimbau teman-temanya seperjuagannya, yang juga di-DPO-kan polisi segera menyerah. Sebuah imbauan apik di ujung kesadaran, juga sebuah sinyal menuju perdamaian sejati di Poso. ***

Kisah Salah Tangkap: Bernafas di Ujung Laras

<b>PERTEMPURAN</b> dahsyat berdurasi delapan jam lebih antara para DPO dan sejumlah warga Tanah Runtuh dengan polisi,Senin 22 Januari 2007 silam, ternyata tak hanya menyajikan kisah suskes polisi membekuk DPO. Tapi, “perang kota” ini juga melahirkan kisah pedih, tentang sejumlah warga, yang bukan DPO dan tak berdosa. Mereka ditodong, diborgol, ditendang juga dihantam popor senapan.

Mereka tersengal-sengal, tarikan nafas tak teratur, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Ujung laras senapan polisi menciutkan nyali mereka untuk melawan. Berikut beberapa kisah tentang salah tangkap itu.

<b>Jamaluddin (22), Karyawan PT Hasrat Abadi:</b>
Tidak pernah terbayangkan dalam benak Jamaluddin kalau peristiwa 22 Januari 2007 di kawasan Kelurahan Gebangrejo,Poso Kota bakal melibatkan dirinya dan harus berurusan dengan polisi.Terlebih mendapat perlakuan tidak manusiawi dari aparat kepolisian yang menudingnya sebagai kelompok DPO dan teroris. Meski telah berlalu lebih sebulan namun peristiwa ini tetap meninggalkan trauma dan rasa jengkel dalam dirinya.

Saat ditemui di rumah kostnya di Lorong Pembantu Gubernur, Jalan Pulau Irian,Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota, Jamaluddin yang akrab disapa Jamal ini bercerita panjang lebar soal peristiwa yang dialaminya.

Pagi itu, sekitar pukul 07.30 waktu indonesia tengah seperti biasa Jamal bersiap-siap menuju tempat kerjanya yang hanya berjarak sekitar satu setengah kilometer dari tempat kerjanya. Saat itu kebetulan Jamal sendiri karena istrinya lagi menghadiri pesta pernikahan keluarganya di Bungku,kabupaten Morowali.

Namun belum sempat beranjak dari tempat duduk di teras rumah kontrakannya, tiba-tiba terdengar suara rentetan tembakan. Tidak diketahui siapa yang melepaskan tembakan secara beruntun itu.Karena panik dan ketakutan,Jamal dan penguni rumah kost lainnya bergegas masuk dalam rumah sembari tiarap.Jamal pun mengurungkan diri pergi ke tempat kerjanya.

Hingga sore hari sekitar pukul 15.30 WITA, puluhan warga yang berasal dari kawasan kelurahan Gebangrejo masuk ke tempat kontrakan Jamal untuk mencari tempat perlindungan. Di tempat itu memang terdiri dari belasan kamar berpetak-petak.Mereka yang umumnya laki-laki ini mengungsi dari rumahnya karena ketakutan menjadi sasaran tembak antara polisi dan kelompok sipil bersenjata.

Selang satu jam kemudian tiba-tiba masuk sejumlah anggota polisi mengenakan rompi dan bersenjata laras panjang.Mereka langsung memerintahkan semua laki-laki yang menghuni rumah kost agar keluar. Semua laki-laki termasuk Jamal pun keluar dari kamarnya dan dikumpul di halaman rumah. Di tempat itu mereka diperiksa identitasnya satu persatu di bawah todongan senjata. Setelah itu mereka disuruh jalan menuju pertigaan Jalan Pulau Irian-Lorong Pembantu Guberur. Setiba di tempat itu,Jamal dan belasan warga lainnya disuruh buka baju kemudian di borgol.

Karena saat itu masih terjadi kontak senjata, Jamal dan belasan warga lainnya  disuruh masuk dalam sebuah gudang kosong milik salah seorang pengusaha keturunan. Selang beberapa saat kemudian,Jamal cs keluar dari gudang menuju sebuah mobil rantis. Saat itulah Jamal dan belasan warga lainnya mendapat perlakuan tidak manusiawi.Dalam keadaan telanjang dada dan mata tertutup menuju  ke mobil, mereka dihantam satu persatu oleh belasan polisi bersenjata.Jamal sendiri terkena hantaman popor senjata berkali-kali di punggungnya.Kekerasan dan penyiksaan ini terjadi hingga sampai di Mapolres Poso.

Setiba di kantor Polres Poso, Jamal dan belasan warga lainnya langsung digiring menuju lorong dekat ruang tahanan.Di tempat itu, ia dan warga lainnya bukannya diamankan melainkan kembali mendapat perlakuan kasar dari puluhan polisi bersenjata.Tendangan sepatu lars dan hantaman popor senjata berkali-kali menimpa  warga yang masih terborgol ini. Jamal sendiri mengalami luka memar di muka dan kening robek.

Bukan hanya perlakuan kasar dan tidak manusiawi itu,Jamal mengaku mendapat makian.’’Saya dibilangin teroris, pemberi dana teroris dan biadab.Pokoknya kata-kata itu berulang-ulang terdengar pak. Saya masih ingat terus kata-kata itu,’’kenang Jamal.

Setelah tiga jam disiksa,Jamal dan belasan warga lainnya kemudian didata dan diinterogasi satu per satu soal insiden tersebut.Seingat Jamal, ada tujubelas pertanyaan yang diajukan oleh polisi diantaranya senjata,siapa yang pegang senjata dan keterkaitan  DPO-DPO tersebut. Dengan tegas Jamal menjawab kalau semuanya tidak ditahu. Jamal sama sekali tidak mengenal siapa para DPO tersebut.

Setelah ditahan semalam, sore harinya Jamal dan belasan warga lainnya akhirnya diperbolehkan pulang ke rumahnya karena dianggap tidak cukup bukti. Meski diperbolehkan pulang namun mereka tetap dikenakan wajib lapor.Seminggu kemudian, Jamal kembali dipanggil polisi dan disuruh membuat surat pernyataan apakah akan melaporkan kasus ini ke Komnas HAM. Karena saat itu pikirannya masih kacau, Jamal memutuskan tidak akan melanjutkan kasus yang menimpanya.Setelah itu, Jamal pun pulang.

Kisah itu memang telah berlalu lebih sebulan namun Jamal mengaku tidak bisa melupakannya.Rasa trauma berbaur jengkel mengenang perlakuan polisi terhadap dirinya dan puluhan warga lainnya.’’Saya masih sangat trauma pak.Apalagi kalau melihat polisi. Sampai sekarang saya masih jengkel dengan perlakuan polisi tersebut.,’’pungkasnya sembari berharap insiden serupa tidak terulang lagi. (syamsuddin)

<b>H Rois (42), Pedagang Kelontong:</b>
Bukan hanya Jamal yang mendapat perlakuan tidak manusiawi dari polisi saat terjadi kontak senjata antara polisi dengan kelompok sipil bersenjata di kawasan kelurahan Gebangrejo, Poso Kota 22 Januari 2007.Sejumlah warga kelurahan Gebangrejo lainnya juga mendapat perlakuan serupa. Bahkan puluhan diantara mereka ditangkap, disiksa kemudian ditahan di tahanan Mapolda Sulawesi Tengah selama enam hari.Seperti yang dialami dan dituturkan H Rois, salah seorang pedagang kelontong di bilangan Jalan Pulau Madura, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota.

Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 06.30 Waktu Indonesia Tengah ketika H Rois baru saja membuka pintu rumahnya untuk memulai usahanya. Rumah batu berukuran sedang ini memang sekaligus dijadikan sebagai tempat usaha jual beli barang bekas  H Rois sejak lima tahun silam.

Selang beberapa saat H Rois  bergegas keluar dari pekarangan rumahnya karena mendengar suara imbauan yang berasal dari helikopter yang terbang dan berputar-putar di atas rumah warga. Memang ketinggian pesawat sekitar lima ratus meter namun suara imbauan itu sangat jelas yang meminta agar semua warga masuk ke dalam rumahnya masing-masing untuk menghindari peluru nyasar.

Mendengar imbauan itu, H Rois,keluarga dan empat orang anak buahnya langsung masuk ke dalam rumahnya. Namun ia belum tahu sepenuhnya apa maksud imbauan polisi melalui mikropon dalam pesawat helikopter tadi.

Sekitar satu jam lebih kemudian, H Rois dan keluarganya panik ketika mendengar rentetan tembakan. Ia tidak jelas melihat dari mana sumber dan siapa yang melepaskan tembakan tersebut. Namun H Rois menduga  kalau tengah terjadi penyerangan polisi ke kawasan Tanah Runtuh. Maklum, tempat tinggal H Rois memang masuk dalam kawasan Tanah Runtuh.Takut terkena peluru nyasar, H Rois menutup pintu rumahnya rapat-rapat sembari menyuruh keluarganya tiarap di lantai.

Jelang jam dua belas siang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu agak keras dari arah luar. Setelah dibuka ternyata Ulil Albab, salah seorang putra H Rois yang sehari-harinya berjualan di Pasar Sentral Poso. Dengan muka pucat, Ulil bergegas masuk.

Hanya beberapa menit Ulil masuk, tiba-tiba terdengar lagi suara ketukan pintu. Lagi-lagi H Rois berdiri dan membuka pintu. Lututnya mulai gemetar melihat beberapa anggota polisi menenteng senjata lars panjang. Polisi itu memerintahkan H Rois dan seluruh laki-laki dalam rumah segera keluar dan berkumpul di halaman rumah.

Di tempat itu, H Rois, Ulil Albab serta empat karyawannya diborgol kemudian di suruh duduk dan dimintai identitasnya satu persatu.Setelah itu, salah seorang diantara polisi tadi menaruh sepucuk pistol rakitan ke paha salah seorang karyawan H Rois kemudian menjempretnya dengan kamera digital. Polisi tadi mengutip  satu persatu karyawan H Rois termasuk Ulil Albab dengan sepucuk pistol terpasang di paha.

Saat itu H Rois sama sekali tidak berani melawan dan menolak ketika polisi memotret anaknya serta empat anak buahnya dengan sepucuk pistol di paha. Padahal senjata itu tidak diketahui darimana asalnya. ‘’Kami tidak berani melawan pak. Karena mereka mengancam kami dengan todongan senjata. Salah seorang anak buah saya bahkan menangis karena diancam akan ditembak.Yah, kami pasrah saja saat di poto. Kami sendiri tidak tahu dari mana senjata itu,’’cerita Rois dengan logat Jawa yang kental.

Setelah dipoto, H Rois, Ulil Albab dan empat karyawannya yang masih terborgol tangannya kemudian ditutup matanya dengan lakban dan digiring menuju mobil rantis.Beberapa puluh meter mobil berjalan, entah kenapa Ulil Albab dipisahkan dan diturunkan dari mobil rantis tadi. Rasa cemas pun membayangi pikiran H Rois jangan-jangan anaknya sengaja dipisahkan untuk dieksekusi.Untuk menghilangkan rasa cemas itu, dalam perjalanan menuju Polres Poso  H Rois terus berdoa kepada Tuhan agar anaknya dilindungi dan tidak diapa-apakan oleh polisi.

Setiba di Mapolres Poso, H Rois dan empat anak buahnya kemudian digiring menuju sel tahanan. Kedua tangannya masih terborgol dan matanya ditutup dengan lakban.Di ruang tahanan, H Rois bergabung dengan belasan warga lainnya yang ditangkap lebih dulu.

Sekitar pukul lima sore, H Rois, empat anak buahnya serta belasan warga lainnya yang ditangkap digiring menuju mobil truk untuk dibawa ke Mapolda Sulawesi Tengah. Saat menuju truk itulah, H Rois dan belasan warga lainnya mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi. Mukanya dihantam dengan popor senjata serta kepala tangan berkali-kali.H Rois tidak bisa mengelak karena kedua tangannya terborgol dan matanya tertutup sehingga tidak bisa melihat arah dan siapa yang memukulnya. Ia pun hanya bisa pasrah menerima pukulan bertubi-tubi dan puluhan polisi yang mengantarnya ke mobil truk.Perlakuan kasar itu tidak hanya berhenti disitu.Sepanjang perjalanan menuju Palu, H Rois mendengar suara rintihan dari warga yang terkena pukulan dari aparat.Dalam hati, H Rois terus berdoa agar tidak menjadi sasaran dan selamat dalam perjalanan.

Namun setiba di Mapolda Sulteng , H Rois dan belasan warga lainnya kembali diperlakukan secara kasar. Bahkan ia tidak diturunkan dari truk seperti biasanya penumpang. ‘’kami diturunkan dan dilempar dari truk pak. Kami diguling. Tangan kami tetap diborgol dan mata tertutup. Pokoknya kami diperlakukan seperti bukan manusia lagi. Saya tidak pernah membayangkan mengalami perlakuan seperti itu pak, Seumur-umur saya tidak pernah diperlakukan seperti itu,’’kisah H Rois dengan mata berkaca-kaca.

Usai disiksa, H Rois dan belasan warga lainnya kemudian dimasukkan ke sel tahanan Mapolda Sulteng. Sebelumnya, borgol dan lakban yang mengikat tangan  dan mulut mereka  dilepas.

Malam pertama di tahanan,H Rois didatangi sejumlah anggota polisi yang mengaku dari Mabes Polri. Anggota polisi yang berpangkat perwira menengah ini bertanya keterlibatan H Rois dalam kontak senjata dan hubungan dengan DPO Poso serta pengetahuannya tentang aliran sesat yang diduga telah diajarkan kepada warga Poso khususnya di kawasan Tanah Runtuh. Namun H Rois mengaku sama sekali tidak tahu menahu dengan apa yang ditanyakan tersebut.Pertanyaan ini juga selalu muncul setiap diperiksa dan diinterogasi oleh penyidik dari Polda Sulteng.

Menarik,dalam proses penahanan dan penyidikan itu, H Rois sempat didatangi oleh seseorang yang mengaku didatangi oleh seseorang yang mengaku Nasir Abbas. Bahkan lelaki itu memberinya kenang-kenangan berupa sebuah buku tebal berjudul Membongkar Jaringan Islamiah karya Nasir Abbas.’’Orang itu mengaku bernama Nasir Abbas. Dia (Nasir-red) bertanya, apakah saya mengenalnya atau pernah mendengar namanya. Saya bilang tidak.Itu saja,’’ujar H Rois sembari memperlihatkan sebuah buku kenang-kenangan yang dimaksud.

Setelah enam hari menjalani tahanan dan penyidikan intensif, H Rois akhirnya dibebaskan karena dianggap tidak cukup bukti. Selain dia, sembilan orang lainnya termasuk empat anak buahnya ikut dibebaskan. H Rois mengaku senang bisa bebas namun dalam hatinya, rasa trauma bercampur kesal atas perlakuan polisi itu tidak pernah hilang dan selalu dikenangnya.Terlebih tidak ada permohonan maaf dari polisi atas perlakuan pada dirinya yang dituding sebagai komplotan DPO dan teroris.

Kini H Rois kembali menggeluti usahanya seprti biasa bersama anak dan karyawannya.Hanya satu harapannya, semoga peristiwa yang menimpanya itu tidak akan terulang lagi.Selain itu, ia juga meminta kepada polisi agar bekerja secara profesional dan tidak asal main tangkap.***

Semilir Luka Warga Tanah Runtuh

Kepedihan menggantung diatas langit kemanusian Poso. Bentrokan berdarah kelompok warga sipil bersenjata Poso dengan aparat kepolisian berujung luka yang luar biasa bagi warga sipil. Bukan hanya tekanan ketakutan akut yang ada, tetapi juga kerusakan material. Puluhan rumah berikut peralatannya menjadi rusak.  Pemerintah  masih sebatas janji dalam perbaikan rumah warga.

Aprianto (20) sudah tertidur tenang diharibaan-Nya. Disebuah pemakaman yang sunyi dan terpencil dalam kota Poso.  Pria, yang masih membujang ini menemui ajal saat ia melintas di zona bentrokan kelompok sipil bersenjata Poso dengan aparat kepolisian pada  prahara  berdarah 22 Januari 2007 silam.

Orang tua Aprianto, Yasin – kini hanya bisa terkulai merangkai kenangan manis anaknya. Terbayang dalam ingatan, pada suatu silam Aprianto ingin menjadi polisi. “Dia memang bercita-cita jadi polisi, tapi nasibnya tragis, mati ditangan polisi” Kata Yasin dengan wajah sendu.

Kematian Aprianto bersama  13 warga Poso, meretas jauh sampai pada tingkat kerusakan material. Rumah beserta perabotnya menjadi luluh lantak akibat terjangan peluru dan tangan-tangan kukuh aparat keamanan.       Rumah, yang biasanya berfungsi sebagai tempat istirahat, tempat memulai dan mengakhiri pekerjaan,  saat itu menjadi sebuah penjara ketakutan.

Lihat saja, sejumlah rumah mengalami kerusakan akibat didobrak aparat atau bahkan di tembaki aparat hanya karena rumah itu dijadikan tempat persembunyian para warga bersenjata kelompok Basri cs. Kerusakan yang dialami warga mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan berat. Ada rumah yang dinding dan atapnya bocor tertembus peluru hingga peralatan rumah tangga yang juga ikut terkena peluru nyasar.

Sebut saja Halijah (33). Ibu rumah tangga yang tinggal di kompleks kantor PDAM Gebangrejo ini mengalami kerugian materil yang tidak sedikit akibat rumahnya dihujani peluru. Ibu lima orang anak ini harus merelakan kulkasnya bolong –bolong  setelah sebuah timah panas melubangi dinding belakang kulkasnya. Kini kulkas tersebut menjadi barang rongsokan karena sudah tak berfungsi.

Bukan hanya kulkas, panci, parabola, termos air, receiver, dan dispenser  miliknya, juga ikut rusak. Panci presto miliknya misalnya berlubang dan tak bisa digunakan untuk menanak nasi. Demikian dengan termos dan dispenser yang pecah. Belum lagi atap dan dinding rumahnya dijejali lobang-lobang menganga-menganga terkena tembakan.

“Semua kerugian saya ditaksir berjumlah 5 juta rupiah,” ujar Halijah yang ditemui di rumahnya. Halijah mengaku pernah ada orang dari Polda dan Pemda Poso datang meninjau dan mendata kerusakan di rumahnya. Haijah dijanji akan diganti semua kerugian akibat bentrokan itu. Namun hingga kini tak satupun barang-barang miliknya diganti.

Memang, wilayah di sekitar rumah Halijah, menjadi tempat pertempuran sengit antara aparat dan warga bersenjata Senin tanggal 22 Januari 2007 yang lalu. Halijah menuturkan, pagi itu dia baru saja akan menidurkan anaknya Mutiara Ramadhani yang baru berusia empat bulan. Sekitar pukul 08.00 Wita, tiang listrik dibunyikan di depan kantor PDAM, beberapa meter dari rumahnya. ”Saya mengira bunyi tiang listrik itu adalah bel kantor PDAM. Nanti saya dengar suara tembakan dari arah barat, saya baru tahu kalo polisi sedang bentrok dengan anak-anak bawah (Basri cs-Red),” tutur Halijah. Pagi itu Halijah hanya berdua dengan anaknya yang baru berusia empat tahun. Suaminya Masran (38), sedang bekerja menjadi satpam di PT Bukaka di Desa Ratolene Poso Pesisir. Dua anaknya sedang sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Tanah Runtuh dan seorang lagi sedang berada di rumah neneknya di Desa Tabalu.

Suara tembakan polisi yang berasal dari perbukitan di sebelah barat pintu masuk PDAM, ternyata dibalas tembakan juga oleh warga bersenjata dari arah PDAM. Itulah yang membuat Halijah panik dan langsung berlari sambil menggendong anaknya ke rumah tetangganya di sisi kiri rumahnya. Dari dalam rumah, Halijah dan sejumlah warga yang ikut berlindung di rumah itu, mendengar bunyi tembakan bersahut-sahutan. Mereka melihat senjumlah warga bersenjata berdiri bahkan ada yang berlindung di samping rumah tempat mereka berada.

“Saya sendiri liat anak-anak bawah (Basri cs-Red) tenteng-tenteng senjata dan melempar bom. Anak saya menangis terus karena kaget mendengar bunyi bom dan senjata,” kata Halijah. Waktu azan dhuhur, kontak senjata berhenti dan Halijah melihat pria bersenjata itu meninggalkan lokasi itu dan mundur ke perbukitan. Sekitar setengah jam kemudian, wilayah itu dikuasai brimob. Sejumlah rumah digeledah termasuk rumah milik Halijah. Beberapa polisi merusak jendela kayu di rumah Halijah untuk mencari warga yang terlibat bentrokan. Karena tidak menemukan orang yang dicari, polisi itu lalu mundur dan mengosongkan daerah itu.

Halijah sendiri baru berani masuk ke rumahnya setelah seorang tetangganya memintanya untuk menutup warung jualannya. Saat itu dia hanya melihat beberapa dinding dan atap rumahnya bocor. Setelah itu dia meninggalkan rumahnya menuju ke barak penampungan warga 20 meter dari rumahnya. “Saya pulang dari barak baru saya lihat ternyata banyak barang-barang saya yang rusak. Saya liat satu-satu, kulkas, panci, termos, dispenser, receiver dan parabola, bocor terkena tembakan,” keluh Halijah.

Dia hanya berharap pihak berwenang segera mengganti kerusakan barangetelah -barangnya karena semua barang itu diperoleh dengan susah payah. Dia  mengaku untuk bisa mendapatkan kulkas ia harus menabung sekitar satu tahun.

Halijah sendiri berprofesi sebagai ibu rumah tangga dengan membuka warung dan suaminya seorang satpam. Dia dan suaminya harus membiayai lima anaknya, masing-masing Irfan Bahri (12) , Vita Aulia Sari (10), Anggun Nindita Sari (6), Muhammad Afriansyah (4) dan Mutiara Ramadhani (4 bulan).

Halijah tak sendirian, rumah Turmudji (65) misalnya  mengalami kerusakan yang lebih serius. Ruang tamu tidak saja berserakan pecahan kaca terburai, tetapi juga  dinding-dinding bagian luar dan dalam berlobang menganga akibat terjalan peluru. Kursi sofa tidak luput dari terjangan peluru. Begitu juga pintu depan rumah menjadi tidak normal. “Pokoknya rumah saya saya seperti kapal pecah” Tegasnya.

Saat itu Tarmudji,  Imam masjid di salah satu masjid di Gebang Rejo sedang berada di rumahnya. Tak dinyana rumahnya dihujani peluru. Polisi melakukan itu karena rumahnya dijadikan persembunyian para DPO kekesaran Poso saat terjadi bentrokan bersenjata tersebut.

“Saya bernasib sial karena DPO itu lari kerumah saya, kebetulan diantaranya ada  keponakan saya” ujarnya.

22 Januari bagi warga Poso  dikenang sebagai   hari mengenaskan. Bayangan ketakutan tergerus saat  mendengar rentetan senjata seakan datang setiap saat.***

Kejar DPO Menuai Bunker

Sepintas hanya terlihat sebuah rumah gubuk yang tak layak huni. Karena itu aparat keamanan dari pihak kepolisian dan TNI tak menaruh curiga kalau rumah yang beratap rumbia berdinding kayu dan berlantai semen lapuk itu  menyimpan misteri besar bernama. “Bunker”

Posisi rumah itu berada di atas sebuah bukit kecil Gunung Jati.  Tidak ada satu pun rumah yang mengapit. Dihalaman rumah ditumbuhi pohon coklat yang tak terurus. Beberapa pohon pisang dengan daun tuanya terjuntai ke tanah mengitari gubuk itu. Dibawah bukit baru terhampar perkampungan penduduk.

Saat memasuki rumah  yang bertelak di kawasan PDAM, Tanah Runtuh Poso, itu juga  tak menunjukkan  tanda-tanda rumah itu ditinggali orang. Dinding rumah yang terbuat dari  tripleks sudah berlubang Warnanya sudah kehitam-hitaman  akibat terguyur siraman hujan. Bagian depan rumah terdapat teras kecil yang dipenuhi sarang laba-laba. Jendelanya terbuat dari kayu yang sebagian ditutup dan sebagian lagi dibiarkan setengah terbuka. Bagian dapurnya  tak berdinding penuh. Hanya bagian bawah dan atas yang ditutupi papan kayu. Sepintas dapur itu tak berfungsi karena tak ada peralatan dapur seperti panci, piring dan peralatan dapur lainnya.

Namun bila ditelisik lebih jauh, dapur itu menjadi aneh karena ada sebuah beton kecil menyerupai septiktank disudut kiri dapur itu. Bongkahan galian tanah mengitari beton kecil itu yang berukuran 50 X 60 centimeter itu. Setelah penutupnya dibuka terlihat sebuah lubang gelap ukurannya  pas satu badan orang dewasa. Lubang itu dilengkapi anak  tangga yang bermata tiga. Diperkirakan kedalam lubang itu lima meter. Sedang luas lubang bunker 20 meter persegi. Didalam lubang itu terdapat sebuah lorong yang berfungsi sebagai ventilasi tempat masuknya udara. Sebuah pipa yang ditancapkan dibagian belakang rumah itu menjadi tempat masuknya udara.

Bunker itu ditemukan saat polisi melakukan pengejaran dan penyisiran terhadap 15 DPO kasus kekerasan yang melarikan diri pada pertempuran 22 Januari 2007 lalu.  Penemuan itu bagi polisi seakan mendapat durian runtuh karena terkuak satu  selubung baru para DPO Poso tersebut.

Mengejutkan memang, sampai-sampai kalangan politisi dari Senayan ikut memberikan komentar soal penemuan Bunker tersebut. Komisi I DPR sempat memberikan pujian terhadap Polri atas penemuan itu.

Dalam prahara 22 Januari 2007 lalu yang menewaskan 13 warga Poso dan satu aparat kepolisian tempat ini dijadikan sebagai tempat merakit bom. Seorang polisi yang pertama kali menemukan bunker itu  pada 22 Januari 2007 mendapati  sejumlah sajadah, buku-buku,  dan  alat perakitan bom ada dalam bunker itu.

Penemuan Bunker ini mengujutkan banyak orang, termasuk pihak aparat kepolisian. Sebab bukan cuma di Irak terdapat Bunker tapi juga ada di Poso. “Ini nyata ada bunker ini diluar dugaan kami” Kata Kapolres Poso, AKBP Rudy Sufahriadi.

Rudy menduga Bunker ini merupakan tempat persembunyian pada DPO bila mereka disisir aparat keamanan. Mungkin itu sebabnya para DPO itu seperti ditelan bumi bila mereka dikejar, hilang tanpa jejak.

Dilihat dari fisik bunker itu, diduga bunker itu dibuat saat polisi mengumumkan 29 DPO kasus kekerasan di Poso dan wilayah Sulawesi Tengah. Seorang warga Poso yang dekat dengan para DPO mengatakan Bunker itu dibuat dua bulan belakangan ini Yang membuat bunker itu kata dia adalah para anak-anak bebek binaan Tugiran.  Anak-anak Bebek yang rata-rata anak dibawah 15 tahun itu berperan sebagai mata-mata DPO bila ada polisi yang memaskui Gebang Rejo. Pasukan anak-anak bebek itu segera melaporkan bila ada pergerakan polisi mendekati wilayah Markas DPO seperti Tanah runtuh dan wilayah PDAM.

Kapolres Poso AKBP Rudi tak menampik anggapan itu. Ia menyebutkan bunker itu memang baru. Ia memperkirakan masih ada bunker lain yang belum ditemukan. Warga Poso yang dekat para DPO itu membenarkan. “Rencananya akan dibuat lima bunker sebagai tempat persembunyian”  Ujarnya sembari menitip jati dirinya tak usah
Disebutkan namanya.

Kini Bunker yang menyerupai gua itu dibiarkan begitu saja. Mungkin akan dijadikan monumen peristiwa 22 Januari  2007 lalu. Dinding depan rumah itu tertulis:  Rumah ini dijual hubungi Basri. Entah apa maksudnya tulisan itu. Wallahu’alam bissawab.***