Sejarah Pen-DPO-an, Berawal Dari Malam Takbiran

Mestinya malam takbiran 2006 lalu dipenuhi rasa suka cita menyambut hari kemenangan, namun yang terjadi sebaliknya. Malam takbiran di Tanah Runtuh, Kelurahan Gebang Rejo , Poso menjadi sebuah petaka. Desingan peluru berseliweran bersama bunyi tiang listrik, sebuah isyarat warga bahwa situasi dalam keadaan bahaya. Malam itu polisi Poso terlibat baku tembak dengan warga.
Baca lebih lanjut

Kejar DPO Menuai Bunker

Sepintas hanya terlihat sebuah rumah gubuk yang tak layak huni. Karena itu aparat keamanan dari pihak kepolisian dan TNI tak menaruh curiga kalau rumah yang beratap rumbia berdinding kayu dan berlantai semen lapuk itu menyimpan misteri besar bernama. “Bunker”

Baca lebih lanjut

Empat Jam Terkurung Dalam Dentuman Peluru dan Bom

Insiden kontak senjata antara polisi dan kelompok sipil bersenjata di kawasan Gebangrejo,Poso Kota 22 Januari 2007 yang menewaskan empat belas orang masih meninggalkan kisah dan trauma yang mendalam.Bukan hanya warga Gebangrejo tapi juga sejumlah wartawan media televisi yang sempat terkurung selama empat jam dalam insiden ini. Bagaimana kisahnya? Berikut penuturan Syamsuddin, Koresponden SCTV Palu yang turun langsung meliput tragedi berdarah itu? Baca lebih lanjut

Kisah Liputan Tanah Runtuh

Seorang jurnalis yang meliput  diwilayah konflik, resikonya terkadang  jauh lebih berbahaya dibanding seorang wartawan peliput perang. Posisi wartawan peliput konflik sangat rentan dengan ancaman kekerasan dan kematian, karena posisinya dituntut untuk bersikap independen  pada kedua pihak  yang berseteru.  Apakah itu dari kelompok Islam atau Kristen, atau   antara kelompok yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Tanah Runtuh dan pihak kepolisian untuk kasus konflik Poso misalnya. Kisah Samsudin dari SCTV itu adalah contohnya, ia nyaris remuk ditangan kelompok DPO Poso. Sementara Abdullah  K. Mari   wartawan ANTV yang selama ini bertugas di Palu, ia  nyaris di bogem, justru di Kantor Polres Poso.
Coba simak cerita yang dituturkan Sam, begitu kawan kita kelahiran Tanah Bugis itu disapah, berkisah seperti begini;  Sekitar sepuluh meter dari  tempat saya berdiri, saya melihat lima lelaki  menenteng senjata laras panjang. Dua  diantaranya mengenakan topeng dan duduk di atas sepeda motor. Orang itu memberi aba-aba  agar segera bersiap-siap. Sadar kalau itu anggota kelompok DPO, saya segera meminta rekan-rekan untuk tidak mengambil gambar dan mematikan handycame.    Saya, bersama lima kawan yang lain,  berjalan pelan sambil memegang handycame menuju arah Tanah Runtuh sambil melintasi lima lelaki bersenjata tak dikenal tadi. Tiba-tiba, salah seorang dari mereka dengan senjata terhunus mencegat dan menanyakan tujuan kami. Saya dan Iwan Lapasere, kontributor Global TV di Palu, dengan perasaan cemas dan gugup menjawab,  akan masuk ke Tanah Runtuh untuk meliput, kami wartawan.  Mendengar jawaban itu, lelaki berpostur kekar tadi spontan menjawab agar segera balik haluan dan tidak usah Tanah Runtuh. “Jika tidak balik, saya akan tembak kamu”, ancam  lelaki tadi dengan nada tegas.
Itulah sepenggal cerita yang tak mungkin anda baca dimedia apa saja. Kisah dibalik layar itu tuturkan oleh   Samsudin, wartawan SCTV yang meliput kisah penyerbuan polisi di tanah Runtuh Kelurahan Gebang Rejo Kecamatan Poso Kota. Sebuah kawasan yang selama ini ditengarai tempat bermukim para pentolan DPO yang selama ini dituding polisi sebagai  biang kekerasan yang memicu reaksi kekerasan demi kekerasan di Tanah Poso.
Kalau Abdi, nama kecil Abdullah K. Mari, wartawan ANTV  yang masa kecilnya dihabiskan di Poso,  punya kisah yang juga  mengenaskan dari kantor Mapolres  Poso.  Ia cerita begini:  Saat itu posisi waktu menunjukkan pukul 14.00 WITA. Sejumlah korban kontak tembak dengan kelompok sipil bersenjata digiring ke Mapolres Poso. Beberapa meter dari pintu saya melihat jejeran orang penuh luka dan berlumuran darah. Sekitar tujuh orang dijejer, enam diantaranya sudah tewas dan satu masih bergerak. Belum lama mengambil gambar, seorang anggota Propam Polres Poso mendekati saya dan bertanya apakah saya anggota polisi. Saya menjawab,  saya adalah wartawan. Saya lalu ditarik keluar dengan kasar. Seorang perwira polisi lalu ikut menginterogasi saya dan berusaha menyita kamera saya. Saya berusaha menjelaskan bahwa saya sudah mendapat ijin dari kapolres untuk mengambil gambar korban. Perwira itu bahkan membentak saya dan terus mengorek keterangan dari mulut saya. Dengan kasar, sambil memegang kamera saya dan mencengkeram kerah baju saya, polisi itu menggiring saya menuju ke ruang Iden (Identifikasi). Di ruang iden saya bertemu dengan perwira polisi yang ternyata orang Polda Sulteng dari Bidang Humas dan kenal dengan saya. Dialah yang menyelamatkan saya dan kamera saya. Perwira berpangkat AKP itu lalu memarahi anggota propam itu sambil meminta maaf kepada saya.

Itulah kisah dari orang-orang (wartawan, red) yang mengabdi untuk kepentingan publik, namun  yang dituai adalah teror-teror psikologis, terkadang,  kekerasan juga meronai perjalanan hidup wartawan di medan konflik. Kematian Wartawan Poso Pos, I Wayan Sumaryase pada 2002 lalu adalah contoh paling ekstrim.
Dengan kondisi ekstrim seperti demikian, terkadang wartawan bekerja dilapangan bagai orang satu tim dari media yang sama, padahal mereka berburu berita untuk sebuah aktualitas dan eklusivitas dari masing-masing medianya. Namun karena taruhan nyawa saban saat mengintip, mereka bekerja tak lagi bagai supermen, tapi supertim yang kompak.
Simaklah cerita Samsudin, ketika polisi melakukan aksi penyerbuan di kelompok DPO di Tanah Runtu Gebangrejo pada 22 januari lalu; Setelah menjemput  rekan Ridwan Lapasere (kontributor Global TV Palu), Upik Nyong (Kameramen RCTI Palu) dan Abdullah K Mari (kontributor ANTV Palu), sekitar setengah jam kemudian kami pun bergerak sambil berembuk, dimana lokasi yang strategis dan paling aman untuk meliput.Keamanan dan keselamatan menjadi pertimbangan utama kami. Setelah berembuk, sekitar lima belas menit, kami sepakat mengambil lokasi liputan di rumah Iwan Ahmad, kontributor Trans TV Poso yang tinggal di Jalan Pulau Alor, kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Apalagi lokasinya cukup dekat dengan kawasan Tanah Runtuh yang bakal jadi target operasi. Sepanjang jalan menuju rumah yang letaknya hanya berjarak seratus meter dari kawasan Tanah Runtuh ini, nampak terlihat lengang. Hanya sesekali terlihat tukang ojek melintas. Sebagian rumah warga terlihat masih tutup.
Rumah Iwan Ahmad, wartawan Trans TV  di Poso jadi base camp sementara karena jaraknya yang sangat dengan lokasi yang akan dijadikan target operasi polisi. Pada pukul tujuh pagi, kembali sekelompok wartawan yang umumnya jurnalis televisi itu kembali mengatur strategi liputan sembari menikmati kopi pagi dirumah Iwan Ahmad.
Jarum jam menunjukkan pukul 08.05 WITA , sekonyong-konyong muncul sebuah mobil truk berukuran sedang dari arah Jalan Pulau Irian Poso . Sopir mobil tersebut melintas sembari berteriak kepada warga agar segera masuk dan bersiap-siap karena mereka sudah dekat. Ternyata yang dimaksud mereka sudah dekat adalah pasukan kepolisian yang akan melakukan penyerbuan pada pagi itu 22 januari 2007 di Tanah Runtuh Poso.
Teriakan sopir truk tadi membuat wartawan langsung sigap mengambil posisi, Samsudin bahkan langsung mengarahkan kameranya pada beberapa sudut yang suasananya ketika itu sudah mencekam, demikian juga Abdhi, Upik Nyong, dan Iwan Lapasere. Ketika itu orang-orang pada diam, sesekali berbisik. Samsudin yang wartawan SCTV itu  kembali mengajak  rekan-rekan jurnalis lainya untuk segera  bergerak dan mendekati lokasi Tanah Runtuh sambil mengambil gambar. Sam (SCTV), Iwan Ahmad (Trans TV), Subandi (Metro TV)  dan Abdullah K Mari (ANTV) bergerak duluan, sementara  Upik Nyong (Kameramen RCTI) dan Ridwan Lapasere (Global TV) menyusul dari belakang.
Tepat di pertigaan Jalan Pulau Alor-Pulau Irian, para jurnalis itu tersentak kaget ketika melihat seorang lelaki berpostur sedang mengenakan topeng menenteng senjata laras panjang. Ternyata lelaki berbadan kekar itu adalah anggota kelompok DPO dari Tanah Runtuh. Tanpa tegur sapa, lelaki tersebut melintas begitu saja. Tak diduga, ternyata kembali menyusul lima orang berbadan tegap, dua diantaranya memakai topeng, sementara beberapa wartawan mulai mengambil gambar disekitar Tanah Runtuh. Tak diduga, salah seorang dari lelaki berbadan tegap itu langsung membentak dan menanyakan tujuan para wartawan itu. Walau sudah dijelaskan kalau mereka wartawan, namun lelaki yang ditengarai kelompok DPO itu menghardik dan meminta para wartawan balik haluan. ’’Tidak usah kesana. Daripada saya tembak kamu,’’ancam lelaki tadi, seperti dituturkan Samsudin. Para jurnalis  itu akhirnya memutuskan kembali ke rumah Iwan Ahmad.
Saat itu mulai berseliweran beberapa  lelaki  memakai topeng sembari menenteng senjata. Lelaki itu kembali mengancam para wartawan dan beberapa warga yang ada disekitar rumah Iwan Ahmad. ’’Jangan memang ada yang lari. Semuanya tetap tinggal di rumah,’’tegas lelaki kekar itu, seperti dikisahkan Abdi.
Dalam keadaan ketakutan dan panik, para jurnalis yang sudah berkali-kali meliput “perang” antar warga di Poso itu langsung masuk rumah Iwan dan menutup pintu rapat-rapat. Suasana pun jadi tegang dan mencekam. Mertua dan keluarga Iwan pun panik ketakutan. Sebagian diantaranya masuk dalam kamar. Nyaris tidak ada suara terdengar. Hanya sesekali, anak sulung Iwan bernama Echa menangis. Namun mertua Iwan berusaha menenangkan cucunya.
Orang-rang di rumah Iwan Ahmad semuanya dalam kondisi psikologis yang tegang , Persis di film-film perang kata Iwan Lapase. Semua orang yang ada dalam rumah mengambil posisi tiarap untuk menghindari peluru nyasar.  Sesaat kemudian rentetan tembakan diselingi ledakan bom terus bersahutan. Ratusan butir peluru berhamburan dari berbagai jenis senjata. Di samping kiri dan kanan serta belakang rumah Iwan tak luput dari hantaman bom dengan suara yang cukup memekakakan telinga. Serpihan ledakannya pun terdengar menerpa atap rumah Iwan Ahmad. Para kawan-kawan wartawan itu beberapa diantaranya mengambil gambar dengan  super hati-hati,  kondisinya sangat berbahaya karena sumber peluru dan bom tak saja datang dari kelompok DPO, tapi juga bersumber dari senjata polisi.
Dalam susasana  tembak menembak itu,    terdengar suara helikopter yang meraung-raung sambil mengeluarkan himbauan agar warga  tetap dalam rumah dan jangan ada yang keluar agar tidak terkena peluru nyasar. Samsudin ternyata nekat ia  mencoba memberanikan diri bangun dan menuju bagian dapur rumah Iwan. Di tempat itu ia melihat dan merekam helikopter yang berputar-putar di ketinggian sekitar empat  ratus meter sembari menyampaikan imbauan lewat mikropon.
Sekitar dua jam berlalu, rentetan tembakan saling berbalasan dan ledakan bom terus terjadi. Tiba-tiba terdengar suara pekikan takbir sembari menyebutkan nama seseorang yang terkena tembakan dari arah Tanah Runtuh.  Para wartawan itu  menduga salah seorang dari kelompok DPO telah terkena tembakan. Namun kejadian itu tidak menyurutkan frekwensi tembakan di kawasan Tanah Runtuh.
Pukul 11.00 WITA , frekwensi tembakan serta ledakan bom mulai menurun.Nampaknya kelompok DPO telah dipukul mundur oleh polisi dan mulai terdesak ke kawasan Bukit Jati, masih disekitar tanah Runtuh. Sesaat kemudian, muncul empat orang anggota brimob bersenjata lengkap dan langsung masuk halaman rumah Iwan Ahmad, tempat para wartawan  berlindung.  Anggota Brimob itu paham kalau beberapa diantara lelaki yang kurang kekar itu adalah wartawan,  polisi itu meminta agar semua tenang dan tetap didalam rumah. Kesempatan itu dimanfaatkan para wartawan untuk  kembali mengambil gambar secara bergantian dari balik jendela. Kata Samsudin, semua gambar wartawan ketika itu sama, karena di shot  dari posisi yang sama.
Ketika kontak tembak itu agak redah, para wartawan kembali meluncur  ke Mapolres Poso, karena beberapa korban di evakuasi ke Mapolres. Ternyata Abdi (ANTV) ditinggalkan para kawannya, ia menyusul kemudian, namun sial bagi Abdi, ketika kameranya asik menyapu beberapa sudut  ruang yang berlumuran darah, ia dihardik seorang anggota polisi, nyaris “ketupat bengkulu” polisi mendarat di pipi Abdi. Beruntung seorang  Perwira Polsisi dari Humas Mapolda Sulteng mengenal Abdi. Bogem itu tak jadi meluncur.
Teramat sulit membayangkan, bila anak-anak negeri ini tak paham tugas seorang jurnalis, entah itu dari DPO konflik Poso juga polisi dan warga lainnya.  Mereka bekerja dibawa ancaman senapan, serpihan bom,  serta hardikan dari orang-orang yang tak paham tugas wartawan. Hasil liputan itu terkadang kita baca, atau tonton di televisi, dengar di radio,  sembari menyeruput kopi hangat. Kita tak tau kalau Samsudin dari SCTV nyaris di dor dengan senjata laras panjang oleh  seorang lelaki berbadan kekar, dan Abdullah K. Mari (ANTV) juga nyaris di bogem justru di kantor polisi.

Tafsir Sesat Dari Konflik Poso

Januari di Poso adalah bulan pesta rakyat. Musim buah-buahan melanda daerah jantung Pulau Sulawesi itu. Pemandangan jualan Durian, Langsat, Manggis dan aneka jenis Mangga terpampang sepanjang jalan Negara di Kabupaten Poso yang dikenal sebagai wilayah sepotong “ Surga ” itu.  Pada Januari Group musik Indie dari kota Palu rencananya akan manggung di sana.

Poso memang kota yang bangkit setelah didera konflik bernuansa etno relegius sejak 1998 lalu. Aktivitas ekenomi mulai merambah. Group-Group pengusaha Palu dua tahun belakangan ini membuka cabang. Group swalayan BNS, dealer motor Honda dan mobil Toyota serta Group penjualan Bahan Bangunan, Sahabudin Maju adalah salah satu contoh. Di Pasar-pasar desa, sepeda motor yang masih tersegel dijajakan seperti layaknya, sayur kangkung.

Tapi sejak perburuan terhadap 29 daftar Pencarian Orang (DPO) 22 Januari lalu pesta rakyat menjadi macet. Jualan buah-buahan menjadi tak laku karena tak ada pembeli. “Durian Saya busuk-busuk karena tak ada Bus-bus besar dari Makasar dan Luwuk yang lewat” Kata Nyonya Lince, warga Desa Sepe, Kecamatan Lage. Dan Group Indie? “Jadwal kami menjadi berantakan” ujar Manajer Band anak muda Palu, Rizal Buncit.

Perburuan terhadap para DPO Mabes Polri yang diduga sebagai pelaku kekesaran Poso menjadi ajang konflik baru setelah kebiasan dua komunitas di Poso, Islam – Nasrani berhenti bertikai. Wilayah Tanah Runtuh sebagai basis anak-anak DPO menjadi medan pertempuran antara kelompok tersebut dengan Polisi.

Pemicunya menurut versi Polisi: anak-anak muda Poso yang masuk dalam daftar penangkapan tak mau menyerahkan diri. Kelompok ini yang oleh polisi sebagai kelompok yang bertanggung jawab terhadap sejumlah kekerasan berdarah dan mematikan di wilayah Sulawesi Tengah dan Poso khususnya.

Akibatnya, polisi mengarahkan tidak kurang 1200 personil Brimob untuk menangkap hidup atau mati kelompok DPO tersebut. Belum yakin dengan kekuatan itu, polisi menerjunkan empat kendaraan mobil besi anti peluru (Barakuda) untuk menembus persembunyian kelompok itu. Belum puas juga polisi menambah kekuatan dengan pamungkas dua buah helicopter dan satu unit kapal dari kesatuan polairud. . Polisi memang sangat rapi mempersiapkan pertempuran yang berskala besar itu.

Dan perang kota pun dimulai: Mula-mula dua kendaraan Barakuda meluncur dari mulut Jalan Pulau Irian, pintu gerang memasuki daerah Tanah Runtuh. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 07.30 wita. Belum cukup seratus meter kendaraan itu bergerak sudah disambut berondongan peluru dari kelompok DPO. Pasukan Brimob yang mengikuti Barakuda secepat kilat berkelabat mencari perlindungan. Bersamaan dengan itu gerak maju pasukan brimob dihalau dengan lemparan bom. “Paling banter kami maju hanya sampai sepuluh meter, tak berani maju karena bom berseliweran” Kata anggota polisi yang ikut dalam perang itu.

Di wilayah PDAM, sebelah timur kota Poso, pasukan DPO melakukan perlawanan sengit. Bripda Wahid, dari Brimob Palu yang menjadi komandan disana belum siap betul. Tiba-tiba saja ia dihujani peluru dari arah rumah-rumah penduduk dan pinggang bukit Gunung jati. Ia salah satu anggota Polisi yang terkena peluru. “untung saya pakai baju anti peluru,sehingga hanya lengan saya yang terluka akibat tembakan yang mental” Katanya.

Wilayah PDAM adalah pintu masuk ke wilayah kelurahan Gerang Rejo. Disini DPO Poso, Agus Jenggot yang dipercaya sebagai penjaga pintu utama. Diwilayah itu juga sebagai tempat pelarian kelompok DPO, tak heran belakangan di PDAM ditemukan sebuah bunker tempat persembunyian dan penyimpanan senjata-senjata para DPO itu.

Awalnya kelompok DPO dalam melakukan perlawanan berada diatas angin. Sampai pada pukul 09. 00. wita, DPO berhasil menembak mati Bripda Roni Setiawan, anggota Brimob kelapa dua, di daerah jalan pulau Alor. Melihat itu Polisi menerbangkan Helicopter yang menggunakan pengeras suara menghimbau agar warga Gebang Rejo untuk tidak keluar rumah. Ini pertanda polisi akan melakukan penyerangan secara massif.

Sejak Helicopter meraung-raung diatas langit kota Poso, pergerakan para DPO pun terbaca. Para DPO itu kucar kacir. Mereka terpaksa meninggalkan markas-markas pertahanan di lima titik. Strategi penyerangan dengan memakai sistem letter S tak jalan. Sebuah seknario penyerangan bersikzak dalam kota Gebang rejo. Berkelabat dari rumah-rumah penduduk yang sudah dipersiapkan menjadi macet. Rupanya mereka tak menduga polisi dalam melakukan serangan memakai helicopter.

Saat itu Situasi pun berbalik, polisi berhasil menguasai psikologi pertempuran, namun begitu polisi belum berhasil menguasai medan. Buktinya dalam Kapolda Sulteng Brigjend Pol, Badrodin Haiti sempat gusar karena sampai pada pukul 11.00 wita sudah delapan warga Poso menemui ajal akibat terjalan peluru polisi tapi tak satu pun dari kalangan DPO yang tewas.

“Bagaimana ini Kapolres, belum ada DPO yang tertangkap dan tewas” ujar Kapolda Brigjend Badrodin kepada Kapolres Poso AKBP Rudy sufahriadi diruang kerjanya.

Kapolres menjawab, “Tenang komandan, Saya yang bertanggungjawab atas kematian warga itu” balas Kapolres Poso.

Kapolres AKBP Sufahriadi yakin mengucapkan kalimat itu, karena warga Poso yang tewas ditengarai melakukan perlawanan dengan memakai senjata modern otomatis semacam AK 47, M 16, MK 3 dan senjata sejenis lainnya. Sejak itu istilah kelompok sipil bersenjata popular. Kosa kata ini menjadi andalan polisi yang mendapat simpati luar biasa dari masyarakat. Polisi dalam melakukan serangan massif ke wilayah Gebang Rejo terlegitimasi dengan kosa kata itu.

Menurut pengakuan Tugiran, komandan anak-anak bebek dan tangan kanan pentolan DPO Basri (lihat tulisan anak-anak), dirinya sempat melakukan pergerakan sikzak dalam perlawanan tapi itu tak efektif karena Markas-markas mereka makin didekati polisi. Markas kekuatan utama mereka diwilayah Lorong pembantu Gubernur, sebuah daerah yang berbukit pada siang harinya jatuh ke tangan Polisi. DPO, Wiwin yang menjaga daerah lari dan turun kota Gebang Rejo menyelematkan diri. “Saya bingung setelah Basri markas di jalan pulau Jawa sudah tak ada, saya lari ke pos pembantu Gubernur sudah dikelilingi aparat” Ujar Tugiran.

Ia mengaku dalam pergerakan sikzak itu ia diserbu polisi dan ditangkap.

Sumber dari kalangan DPO menyebutkan awalnya mereka mempunyai senjata rudal (DPO menyebutnya senjata jantung pisang) sudah dipersiapkan untuk menghalau Barakuda. Namun senjata itu, tiba tiba raib pada pagi harinya. Padahal kata sumber DPO itu sudah ada dua orang yang siap menjadi martil untuk memegang senjata itu. (Dua orang sudah menyatakan siap syahid untuk melucurkan`senjata jantung pisang itu” Katanya.

Kalau saja kata dia, senjata itu tak raib, cerita perlawanan kelompok DPO akan lain. Seorang anggota Polisi yang ikut dalam penyerangan itu menyatakan hal yang serupa. Ia berkata, pihak polisi berani maju karena Barakuda telah mengacak-acak persembunyian para DPO itu.

Perang kota itu memakan waktu selama delapan jam lamanya. Kelompok DPO lari tunggang langgal dari medan pertempuran dengan nafas tersengal. Polisi juga tersandar merampungkan sisa-sia nyalinya. Sejatinya Polisi juga takut melihat heroisme perlawanan DPO itu. “Senjata mereka bagus-bagus kita jelas waspapa” tukas seorang polisi.

Lalu dimana posisi warga Poso ketika perang berlangsung?. Yang pasti mereka terkurung terkurung dalam kecemasan dan ketakutan sekaligus. Suratmi warga Jalan pulau Jawa II misalnya , merasakan susatu yang absurd dalam pertempuran itu. Ada yang taak masuk akal dibalik serangan Polisi ke kampung halamannya. Suratmi mewakili dari ribuan warga Gebang Rejo, mungkin saja benar. Soalnya belum hilang betul derita yang dialami pada konflik Poso enam tahun silam, kini konflik dengan magnitude serupa kembali terulang. “hidup makin sulit, entah dimana semua ini akan berujung” Ujarnya.

Yang membuat ia nelangsa karena rumahnya yang baru saja direhab terpaksa berantakan karena terjangan peluru. Kaca-kaca depan rumahnya hancur terburai, Isi rumahnya pun bagai kapal pecah setelah diacak-acak polisi yang menncari senjata dan anggota DPO yang ditengarai bersembunyi disitu. Tanaman sayur-sayuran didepan rumahnya juga terinjak-injak oleh kedua kelompok yang tertikai.

“Kami tak tahu apa yang kami kerjakan, senjata-senjata DPO dan Polisi yang menentukan nasib kami saat itu” Ucap Suratmi.

Sikap Polisi jelas: Serangan terhadap kelompok DPO itu tetap dibutuhkan, karena kelompok ini yang melakukan aksi kekerasan di Poso. Penyerbuan itu mutlak diperlukan sebagai upaya penegakan hokum diwilayah republic ini. Polisi berkeras melakukan serangan ke kelompok DPO yang berbasis di wilayah Gebang Rejo itu karena mereka tak mau menyerahkan diri. “Langkah persuasive sudah ditempuh, tenggat waktu sudah beberapa kali diberikan. Kali ini polisi sudah kehabisan waktu, ya terpaksa kita lakukan upaya pemaksaan ” Katanya Kapolda Sulteng.

Dendam kalangan DPO akibat konflik Poso 2000 menjadi letigimasi anak-anak muda Poso melakukan aksi kekerasan. Atas nama balas dendam, Basri dan Tugiran misalnya rela menjual hartanya untuk membeli senjata untuk melakukan aksi balas dendam tersebut. Basri mengakui melakukan sejumlah kekerasan di Poso seperti peristiwa mutilasi dua siswi anak SMA di kota Poso atas nama balas dendam.

Yang jelas perang kota itu telah memakan 13 warga sipil melayang, satu Polisi dan merusak pasilitas pribadi warga yang tidak terlibat. Menciptakan ketakutan dan trauma anak-anak belasan tahun di Poso. Perekonomian warga menjadi macet. Perang 22 Januari memang sebuah tafsir yang keliru untuk tidak disebut “ Sesat ”. ****

Anak Bebek: Kaderisasi ala DPO Poso

Pengakuan Tugiran, sungguh mengejutkan banyak pihak. Tugiran salah seorang pentolan daftar pencarian orang dalam sejumlah kasus kekerasan di wilayah Poso mengakui telah melakukan pembinaan dikalangan anak muda Poso yang kemudian kelak menjadi anak buahnya.Tugiran melakukan rekruitmen terhadap sejumlah anak muda poso yang berusia 15 sampai 17 tahun untuk dididik menjadi anak muda yang benci terhadap orang Kristen yang dianggap melakukan pembunuhan terhadap ribuan warga muslim Poso. Pria bertubuh kekar dan menjadi orang kepercayaan Basri ini menamai kelompok itu bernama pasukan anak bebek. Komandannya Tugiran sendiri. Baca lebih lanjut

Surat dari Bumi Jihad Poso

POSO, 11 Maret 2007

Dari Iin Untuk Saudaraku Basri dan Kawan Kawan di Jakarta.

Assalamu alaikum Wr,wb.

“Jangan dikira Kamu gampang masuk surga sebelum Allah Menguji kamu”

Hidupku menjadi terasing di kota tercinta Poso setelah Sahabat-Sahabat semua ditangkap, dan kemudian menjadi terkenal, beken, bagai bintang film yang disorot lampu kamera. Diburu wartawan untuk kepentingan pemberitaan. Tapi itu semua saya tak peduli. Yang merisaukan saya saat ini bukan karena akhi-akhi semua dipenjara, bukan juga karena saya tetap menjadi buronan polisi tapi peristiwa sahabat kita Basri saat di tatto di kebun coklat PDAM Desember 2006 lalu terekam baik dan kini tersimpan rapi di file Densus 88 Anti teror Mabes Polri. Baca lebih lanjut

  • AJI Palu

    Blog ini adalah blog resmi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu. Blog ini diniati sebagai kanal informasi alternatif tentang konflik di Poso, Sulawesi Tengah. AJI mencoba melihat konflik itu dengan pendekatan jurnalisme humanisme dengan mengutamakan mendengar suara-suara korban konflik secara keseluruhan yang kadang tidak mendapat tempat dalam peliputan media, tanpa menyampingkan data, fakta dan peliputan menyeluruh pada semua pihak. Untuk pertanyaan, saran maupun pengaduan tentang pelecehan profesi maupun tindakan anggota AJI yang dinilai melanggar Kode Etik, Anda dapat menghubungi Amran Nawir Amier (Ketua AJI Palu) dan Iwan Lapasere (Sekretaris AJI Palu) di alamat: Jalan Rajawali Nomor 28 Palu, Sulawesi Tengah. Telepon: +62-451-456050. fax: +62-451-424828. Email: aji_kotapalu@yahoo.co.id
    Admin: jgbua@yahoo.com